Gagalnya sebuah perjalanan

Kata siapa kalau perjalanan yang sudah direncanakan matang harus selalu lancar sukses mencapai target. Setidaknya tercatat ada 2 perjalanan saya yang -gagal total berantakan bikin jengkel tingkat dewa- bahkan sampai harus reschedule , tiket hangus dan mesti beli ulang.

COLOSSUS-OF-RHODES

Pertama : Gagal mengunjungi Rhodes di Cyclades Yunani, gara gara salah tafsir tanggal. Ini terjadi waktu saya keliling pulau2 di Yunani, sudah direncanakan sedemikian rupa supaya efektif tidak buang waktu, cari tiket ferry yang paling murah dengan konsekwensi jadwal yang cuma sehari sekali berangkatnya, malahan hari-hari tertentu saja. Tidak disemua pulau saya menginap, hanya di 2-3 pulau asik , beberapa pulau lainnya saya kunjungi tanpa menginap. Di Mykonos, Crete dan Santorini saya menginap 1-2 malam, pulau Naxos dan Rhodes cuma mampir karena ga mau rugi lantaran belum pernah kesitu.

Jalur kapal, boat, ferry ada banyak macam, company nya juga beda beda, termasuk  variasi harganya tergantung  cepat atau lambat (tapi tidak ada yang murah untuk kantong saya), dengan susah payah saya bisa mendapatkan tiket tiket yang sesuai dengan keinginan . Cari yang pas juga sulitnya minta ampun, hampir semua websitenya tidak menggunakan bahasa Inggris,  huruf alpha omega semua !! Ngerti yang ini, lupa yang tadi..cocok sampai jalur situ, tidak ada kapal jalur ke pulau berikut yang saya tuju, ulang lagi dari mula, harus ditukar urutannya. Urutan, harga sudah cocok, eh ..jamnya kurang ideal.

Makan waktu 3 hari sendiri untuk merancang rute, harga dan waktu yang betul betul pas. Rencana sudah mantap, bisa gagal dimananya? Teledor aja karena keasikan main. Kejadiannya begini…saya tiba di Fira tanggal 4 April, begitu sampai di terminal bus yang membawa saya dari pelabuhan, langsung saya menanyakan jadwal bus ke pelabuhan untuk lusa, tgl 6 dimana saya harus berangkat ke pulau Rhodes. Jadwal bus ke pelabuhan ditulis pakai bolpen tertera bus terakhir untuk tanggal 5 April adalah jam 9 malam. Saya tanya jadwal untuk tanggal 6 April mana? Mereka jawab suruh lihat besok…kok aneh, jadwal ditulisnya perhari. Ya sudah, besok saya akan kembali ke terminal untuk lihat jadwal, toh pasti besok saya kesana lagi untuk naik bis ke Oia, kota lain dipulau itu.

Setelah menyimpan koper di hotel, saya jalan jalan di kota Fira sepuas puasnya. Besoknya pagi pagi saya berangkat ke Oia naik bus, tidak lupa di terminal saya menanyakan jadwal bus untuk tanggal 6 April, ternyata keberangkatan bus  yang  paling akhir jam 5 sore. Ya sudah, terpaksa besok saya harus naik taxi ke pelabuhan, masa saya harus menunggu 4-5 jam di pelabuhan sebelum kapal berangkat tengah malam. Jarak kota ke pelabuhan tidak terlalu jauh juga, naik bus cuma 15 menit. Sanggup lah bayar taxi.

Seharian itu saya bersenang senang di Oia desa cantik diatas tebing menghadap laut, dengan rumah bersusun susun serba putih. Puncaknya adalah melihat sunset yang menghadap ke gunung volcano…hari yang sempurna. Besok paginya tgl 6 ketika saya sarapan, ada sms masuk yang beritanya ‘anda sudah bisa web chek-in untuk penerbangan Rhodes-Athena 6 April jam 20.00’….., bingung..lha sekarang masih di Fira. Naaaah..tragedi dimulai. Langsung saya cek tiket boat dan tiket pesawat. Ohalaaaa…ternyata tiket boat saya betul berangkat dari Fira tgl 6 April tapi jam 00.50 dan tiba di Rhodes jam 9.00 pagi. Jadi seharusnya saat itu saya sudah tiba di Rhodes, jadi sebetulnya tadi malam saya tidur di boat, jadi nanti malam saya sudah terbang ke Athena…haiissssh…..hangus deh tiket boat 39 Euro.

Sudah hilang kesalnya, saya harus segera bertindak mau bagaimana..cari tiket pesawat ke Rhodes jamnya sudah mepet, ga mungkin lagi…rela ga rela saya harus beli tiket langsung ke Athena supaya tidak rugi lebih parah. Skip deh Rhodes, padahal saya ingin melihat bekas Colossus, yang sudah runtuh kapan kapan. Mungkin nanti saya harus kesana lagi kalau patung Helios sudah jadi. Lah namanya traveling, kadang ada juga melesetnya. Hangus tiket boat Fira-Rhodes, hangus tiket pesawat Rhodes-Athena, hangus hostel di Rhodes..walaupun saya tidak menginap di Rhodes, tetap saya booking hostel rencananya hanya untuk titip koper selama jalan jalan sekian jam, berhubung pelabuhannya tidak punya penitipan koper. Total kerugian 150Eur…jreeeeng.

Keukenhof

Kedua: Gagal reuni sama temen temen di Keukenhof. Ini konyol gara-gara telat bangun sehingga ketinggalan pesawat ke Amsterdam. Jauh jauh hari sebelum berangkat, saya sudah kontak teman yang di Belanda mau ketemuan ditanggal yang sudah disepakati bersama, di Keukenhof. Saya belum pernah lihat tulip disana, dan pas lagi musimnya…jadi cita cita bisa foto2an ditaman tulip. Sebetulnya cuma dengan 2 orang teman yang sudah tinggal puluhan tahun disana, satu teman SD dan satu lagi teman kuliah. Malahan kita sudah masing2 beli tiket masuk ke Keukenhof, supaya tidak pake antri.

Mereka akan berangkat dari kediamannya masing masing, saya berangkat dari Berlin ke Amsterdam pagi pagi, lalu dari Schiphol naik bus langsung ke Keukenhof, saya sudah beli tiket online yang paketan untuk masuk taman berikut tiket bus nya pp. Dasar sama sekali tidak berjodoh sama tulip, betul betul batal berantakan rencana itu. Di pagi keberangkatan, saya terbangun jam 6, sementara jadwal pesawat take off jam 6.30. Alarm yang saya pasang jam 4 pagi..bablas tidak terdengar. Padahal hari-hari kemarinnya selalu saya terbangun 5-10 menit sebelum alarm bunyi.

Aneh kan??..Malam sebelumnya saya sudah pesan taxi, tapi kenapa pintu saya tidak digedor ya? Kalau tidak salah kamar hotelnya tanpa telepon, ya maklum hotel paling murah yang saya pilih. Ketika saya tanyakan ke receptionist, mereka bilang tadi ada taxi orderan datang jam 5, tapi pergi lagi …mereka tidak tahu siapa yang memesan. Yah nasib..walaupun sadar saat itu sudah tidak akan terkejar, tetap saya kabur ke airport yang jaraknya cuma 5 menit naik taxi .

Sambil menunggu order taxi ulang,  5 menit saya gunakan untuk dandan kilat, juga tak lupa berdoa semoga pesawatnya delay. Doa saya tidak berkenan..pas tiba di airport, pesawatnya sudah babayyyy… Urusan tiket hangus tidak begitu saya pikirkan, pasti akan ada jalan keluar berhubung sudah sering juga ketinggalan pesawat. Yang saya pikirkan adalah 2 teman lain yang sudah sepakat bakal ketemu bareng…kecewanya pol.

Ketika akhirnya saya telfon salah satu teman untuk mengabarkan saya ketinggalan pesawat, dia sudah siap2 berangkat ke Keukenhof, bahkan  sudah menyiapkan bekal sandwich untuk sarapan saya…duh terharu. Saya sudah ingin beli tiket flight berikutnya, tapi penerbangannya cuma ada sehari sekali. Tiket ke kota lain yang dekat2 Amsterdam juga tidak ada. Teman saya usul agar segera naik kereta. Wah..engga deh..kemarinnya saya ke kota naik kereta, pas jalurnya ada yang ditutup, sehingga harus stop di stasiun anu, turun lalu disuruh sambung dengan bus nomer segini sampai setasiun berikutnya untuk bisa naik kereta lanjutan.

Busnya gratis, tapi jalan dari setasiun ke bus stopnya memotong taman yang luas dengan jalanan setapak dari kerikil. Tobat kalau harus nyeret koper diatas kerikil segitu jauh…bisa bisa rodanya tamat sebelum jalan kerikilnya selesai. Akhirnya saya balik check-in ke hotel yang sama setelah membeli tiket  penerbangan di jam yang sama untuk besoknya,  lalu besok sorenya saya sudah harus terbang ke Indonesia. Ini lebih besar lagi ruginya..dobel tiket pesawat, hilang bookingan hotel semalam di Amsterdam, bayar semalam lagi hotel di Berlin, hilang tiket Keukenhof, batal ketemu teman lama. Jengkel..jelas. Kapok? Engga juga tuh..itulah bagian dari suka duka perjalanan..halaaaah.

Advertisements

Yang langka terjadi dalam pesawat

IMG_0649

Setiap kali  naik pesawat terbang, pramugari selalu memeragakan cara cara penyelamatan diri apabila terjadi hal hal darurat,sebelum pesawat tinggal landas. Prosedur wajib yang selalu dilakukan; buka tutup sabuk pengaman, pemakaian pelampung darurat dan masker oksigen.

Tapi baru satu kali saya benar benar mengalami masker oksigen turun dari atap pesawat, saat mendarat di bandara Inca Manco Capac Juliaca, Peru. Entah karena memang saat itu kadar oksigen dalam cabin sangat rendah mengingat kota Juliaca berada diketinggian 3.825m diatas permukaan air laut, ataukah ada yang salah pada teknisnya, tapi kejadian itu cukup mengagetkan.

Pesawat waktu itu tidak terlalu penuh, dan kelihatannya semua penumpang domestik. Mereka tidak terlihat terlalu terkejut dengan kejadian itu, jadi saya juga tidak khawatir berlebihan.

Lain kesempatan saya naik pesawat entah tujuan mana di Eropa, setelah duduk rapih ketika mendongak keatas, astaga….banyak tambalan sticker aluminium dibagian bawah compartemen tempat tas diatas tempat duduk penumpang. Sepanjang terbang saya hanya dapat berdoa semoga itu bukan kesalahan fatal.

IMG00067-20100904-1220

Ojek Tour…Tuk Tuk Tour

Pengalaman tour pakai ojek saya rasakan di Ho Chi Minh City atau dulunya Saigon.

Kota tua ini asyik dinikmati. Kota kecil dengan jalan raya lebar lebar, bangunan bangunan kuno peninggalan kebudayaan Perancis, dan jajanan khas Vietnam yang enak enak dan murah.
Perempatan jalannya luaaaas , ataupun kalau berupa bunderan tanpa lampu merah selalu penuh dengan motor !!
Mungkin disini lebih banyak motor daripada kendaraan jenis lainnya.
Pertama tama yang menyarankan jalan2 pakai motor ya orang2 di hostel.
Sesama penginap cerita bahwa mereka sewa motor untuk kemana mana, berhubung saya tidak bisa naik motor, ya terpaksa sewa motor sama drivernya.
Banyak juga motor yg mangkal didepan hostel, tinggal pilih2 motor , helm dan sopir yg bersih.
Jadilah tawar menawar tarip motor seharian, boleh minta diantar kemana saja mulai jam 10 pagi sampai jam 4 sore . Enak juga naik motor , hemat waktu dan murah, cuma 5 USD biayanya.
Di Vietnam USD berlaku untuk transaksi, umum dipakai untuk pembayaran segala belanjaan, jajan, jasa termasuk ongkos ojek .
Buat saya memang lebih enak pegang USD, krn uang pecahan lokalnya kecil2, sehingga kalau terima kembalian dalam “dong” bisa setumpuk., bikin pusing.
Yang saya takutkan kalau sampai di perempatan besar. Motor yang buanyak itu langsung bruuuulll…serentak maju.

Tapi mereka semua jalannya pelan pelan tidak ada yg ngebut, jadi tidak begitu mengerikan seperti bayangan saya semula. Justru lebih ngeri menyeberang jalan. Saya selalu menunggu orang yang akan menyeberang, nebeng rombongan yang agak banyak.

Sebab pernah saya mau kearah seberang yang sana, tau2 yang saya ikuti beda tujuan, saking luasnya perempatan. Daripada saya harus nyeberang sendirian, terpaksa saya ikut keseberang yang salah, baru dari sana cari tebengan lagi nyeberang kearah yg saya tuju. Ternyata saya lihat banyak turis2 bule juga pake jasa ojek keliling kota. Selain itu sopir ojek juga bisa cerita banyak tentang obyek2 wisata yg ada disekitar sana, dengan bahasa Inggris seadanya tapi lumayan lah.

Selesai tour pakai ojek, badan pegal2 karena ga biasa mbonceng motor, otot2 pada kaku semua.

Di Cambodia lain lagi ceritanya. Saya menggunakan bus umum dari Vietnam (Ho Chi Minh City) ke Pnom Penh. Begitu tiba di terminal Pnom Penh, langsung dikerubuti sopir2 tuktuk, semacam beca beratap yang ditarik sepeda motor…. Transaksi pakai USD karena saya juga belum punya kesempatan ke money changer. Tuktuk di Pnom Penh bisa memuat 4 orang sekaligus, tempat duduknya 2 berhadap2an. Atapnya lebar sehingga sopir juga terlindung . Di Pnom Penh ini route pertama adalah cari hotel, karena hotel yang saya booking via internet tutup seminggu sebelum kedatangan saya….kok bisa ya ada kebetulan seperti itu, hilanglah uang muka yang saya bayarkan.  Lalu saya diantar sopir tuk tuk mencari hotel lain disekitar situ.  Sopir itu juga yang saya sewa beberapa hari selama saya keliling Pnom Penh.

Saya booking hotel di kota Siem Reap juga via internet, dibilang jemputan gratis dari airport, boat quay atau terminal bus. Berhubung saya juga menggunakan bus dari Pnom Penh ke Siem Reap,saya dijemput di terminal bis

Saya bayangkan dijemput pakai bus atau sejenisnya, ternyata yang jemput adalah tuk tuk lagi,
Ya hayo aja…selanjutnya receptionist hotel bilang bahwa tuktuk bisa disewa untuk jalan2 keliling kota..ooo..saya langsung paham dan transaksi dgn tuktuk yang tadi menjemput di terminal bus. Ongkosnya tidak jauh beda dengan ojek di Ho Chi Minh City dan di Pnom Penh.
Tuk tuk di Siem Reap lebih kecil, hanya bisa muat 2 orang dan atapnya juga hanya melindungi bagian penumpang.
Situasi jalan raya di Siem Reap lebih santai, tidak banyak kendaraan pribadi hilir mudik, tapi debunya lumayan banyak. Tuk tuk ini juga saya sewa beberapa hari untuk ke kompleks Angkor , Ta Promh dan ke Tonle Sap Lake.
Bahkan ke airport waktu meninggalkan Siem Reap juga naik tuk tuk….

 

Speed Trap

Masing2 wilayah punya cara sendiri untuk menghambat laju kendaraan dijalan raya. Kalau di Indo rata2 berupa polisi tidur, dan biasanya banyak terdapat didaerah perumahan/kompleks.

Di India, jalan2 didalam kota kota besar seperti New Delhi, dimana macet juga separah di Jakarta, masih dikasi penghalang dimana mana. Tadinya saya pikir ada perbaikan jalan atau kecelakaan, ternyata memang begitu adanya setiap saat, kata sopir taxi yang membawa saya dari Bandara ke hotel di tengah kota. Penghalangnya berupa dua buah struktur kaki tiga ,dihubungkan dengan palang kayu yang dililit kawat duri kaya barikade jaman perang. Dipasang melintang berjarak sekitar 20 meter dengan posisi rapat kiri jalan—rapat kanan jalan –rapat kiri jalan. Selalu terdiri dari 3 rintangan.  Jadi semua kendaraan mau tidak mau harus slalom ,tidak bisa jalan lurus…akibatnya jalan yang sudah sesak tambah penuh dan macet…ditambah  klakson mobil dan motor yang bersahut sahutan, lengkap sudah kacaunya suasana di jalan raya. Tabrakan kecilpun sering terjadi. Tapi tingkah pengendara yang hobby membunyikan klakson boleh ditiru. Tidak pernah keluar sepatahpun caci maki , teriakan atau umpatan dari mulut pengemudi. Motorpun juga banyak yang bersenggolan sampai gubraak…masing2 bangun lagi dan jalan terus, tanpa emosi dan kerubungan orang2 lain.

Diluar kota, jalanan banyak dilalui gerobak besar2 yang mengangkut jerami sampai tinggi, ditarik onta dan berjalan lambat sekali. Itupun tidak membuat pengemudi kendaraan dibelakangnya naik darah,selain membunyikan klakson. Dan memang umum dibagian belakang gerobak ada tulisan besar2 HORN PLEASE….hehehe…. Selain itu didaerah luar kota juga diperbolehkan kendaraan macam bajay lewat dengan muatan 6 orang termasuk supir didalamnya!!!! Sama2 slalom bareng2 gerobak dan motor muatan 4 orang.

Ada speed trap jenis lain, yang saya jumpai dijalan2 highway dari Amman di utara Jordan sampai Adaba dibagian Selatan. Speed trap yang ada disana berupa baja setengah bulat sebesar  kepalan tangan, yang ditanam di polisi tidur  landai dan lebarnya sampai 1 meter. Jarak pasang besi baja masing2 20 cm  berbaris rapih , tersebar merata selebar polisi tidur tadi. Jadi roda kendaraan yang melintas diatasnya bakal gredek gredek gredek dengan irama yang sama tiap2 melindas speed trap itu. Berkendaraan melintas highway King Husein……dari Utara ke Selatan selama 5 jam,dan 5 jam lagi untuk perjalanan kembali membuat saya akrab dengan gredek gredek itu, sampai tidurpun tidak lagi terganggu. Apalagi pada kesempatan itu saya ada didalam taxi charter, Mercedes keluaran terbaru, dengan tempat duduk berjok kulit… nyaman luar biasa. Saya bertanya untuk apa speed trap begitu banyak dipasang di Highway yang sepi, sedangkan dikanan kiri jalan hanya padang pasir, bukan desa dimana banyak orang lalu lalang. Kadang2 saja terlihat kelompok Bedouin dengan tenda2nya dikejauhan ditengah padang pasir. Rupanya untuk melindungi onta dan ternak yang menyeberang jalan. Onta disana merupakan simbol status, ukuran kaya tidaknya seseorang dari banyaknya onta yang dimiliki. Bahkan untuk melamar seorang gadis, onta adalah mas kawin yang paling tinggi nilainya. Jadi Mercedes yang saya tumpangi tidak ada apa2nya dibanding onta!! Jalan disana mulus dan mengilap seperti mengandung minyak,sehingga selalu tampak seperti habis disiram hujan, padahal hampir tidak pernah ada hujan.

 Speed trap yang saya lihat di sepanjang perjalanan dari Pnom penh sampai Siem Reap berupa polisi tidur kecil kecil sebanyak 2 buah, diantaranya ada besi panjang2 yang ditanam dengan posisi menyerong dengan jarak kira2 30 cm. Speed trap ini banyak terdapat pada jalan raya antar kota, dimana pada tiap2 mulut jalan desa dipasang sebanyak 2 buah. Efeknya sama yaitu gredek gredek juga, hanya karena saya menumpang bus umum yang muatannya berat, maka tidak terlalu terasa. Umumnya jalan yang saya lalui di Kamboja ini  sempit sempit. Bahkan ada satu ketika bus harus melintasi sungai menggunakan ferry. Itu waktu naik dari perbatasan Vietnam-Kamboja menuju ke Pnom penh ,melintasi sungai Mekong di daerah yang namanya Neak Leoung.

Ketinggalan Pesawat…

Kadang kadang jalan sendiri ada ga enaknya juga kalau lagi ketemu masalah. Apalagi berada jauh di negeri orang, bahkan kadang ditempat asing yang sama sekali belum pernah kita lihat atau injak sebelumnya. Kejadian yang menimpa saya contohnya, jadi pelajaran yang berharga untuk kemudian hari, bahwa sebaiknya sediakan waktu yang cukup panjang untuk transit pada saat pilih ticket penerbangan. Kecenderungan saya adalah memilih perjalanan pulang dengan route sekaligus sambung menyambung untuk bisa langsung sampai di tanah air sesegera mungkin setelah jalan jalan berakhir. Pemikiran saya adalah sekaligus capek, sampai dirumah langsung bisa pijit dan bisa tidur sepuasnya.

Waktu itu perjalanan pulang yang saya tempuh adalah dari Dallas,TX ke New York, Istanbul Turki, Singapore – Jakarta. Ada 3x transit yang harus saya tempuh untuk dapat sampai di Cengkareng,dengan 3 penerbangan yang berbeda. Masalahnya berawal dari antrian didepan counter AA di Dallas, dimana penerbangan domestik pagi itu cuma dilayani oleh 2 orang petugas counter untuk entah berapa banyak jurusan penerbangan sekaligus. Melihat petugas yang tidak bekerja efisien ,saya perhitungkan kira2 butuh 1 jam untuk bisa sampai  didepan petugas dan dapat boarding pass. Kalau hanya terbang antar kota saya tidak begitu peduli, masalahnya saya hanya punya waktu 2 jam transit di New York ,untuk beralih ke penerbangan International menuju ke Istanbul. Jadi saya tidak boleh ketinggalan penerbangan ini. Saya menghormati prosedur antiran, tetapi waktu saya sudah semakin mendesak dan kelihatannya perhitungan saya meleset, melihat waktu yang terus bergerak maju,sementara antrian bergerak maju sangat lambat. Saya masih bersabar sambil memikirkan bahwa setelah ini masih ada antrian check X-ray ,dan kelihatannya saya harus lari ke gate yang saya belum tahu berapa jauhnya dari check point.

Gate tidak bisa kita lihat dari papan petunjuk , karena belum waktunya boarding, tapi berdasarkan pengalaman saya boarding time penerbangan domestik di Amerika rata2 cuma seperempat jam sebelum terbang. Jadi saya dengan panik mengacungkan tiket ,meneriakkan nomor penerbangan karena waktu tinggal lima belas menit lagi terbang,sedangkan saya belum dapat boarding pass. Akhirnya saya dipersilakan ke meja counter, tapi masalahnya belum selesai. Untuk penerbangan saya, kondisi bagasi sudah closed, sedangkan saya membawa koper yang tidak mungkin masuk cabin,disamping itu masih ada 1 travel bag besar yang rencananya akan saya masukkan bagasi juga. Maklum perjalanan pulang, jadi koper sudah penuh maksimal dengan oleh2 dan barang2 belanjaan . Wah…saya sempat marah2 karena pelayanan yang sangat lambat untuk ukuran penerbangan domestik. Akhirnya ada alternatif penerbangan lain ke New York yang kondisi bagage masih open , 15 menit lebih lambat, tapi mendarat di bandara La Guardia, sedangkan saya seharusnya mendarat di bandara Int’l JFK . Lalu saya tanya berapa jauh dari La Guardia ke JFK, kira2 20 menit pakai taxi. OK, saya setuju…dapat boarding pass, lalu lari ke X-ray check point. Memang pemeriksaan dibandara di Amerika super ketat, penerbangan domestikpun masih digeledah sampai semua barang2 dalam backpack saya dikeluarkan semua. Padahal backpack saya selalu bersih dari barang2 terlarang untuk terbang jaman sekarang, dengan aturan2 yang agak keterlaluan mengenai bawaan barang cair, kosmetik sekalipun. Lolos dari pemeriksaan itu saya lari ke gate , karena waktu saya sudah berkurang 15 menit untuk lewat gerbang X-ray dan penggeledahan.

Dan akhirnya saya bisa msuk pesawat tepat pada waktunya. Mulai duduk pesawat saya sudah resah, biasanya begitu pintu ditutup,pesawat langsung bergerak menuju runway. Ini diam lama….sampai ada kira2 15 menit masih ditempat,tanpa ada pengumuman apa apa. Kepala saya sudah mulai berdenyut denyut….ini kelihatannya delay, karena waktu itu cuaca memang mendung tebal. Saya berdoa lama, sampai amin pesawat belum juga berangkat. Akhirnya setengah jam dari jadwal baru pesawat take off. Berarti waktu saya hanya tersisa 1 jam 15 menit dari mendarat di La Guardia sampai terbang dari JFK. Itu masih cukup waktu kalau transit di bandara yang sama, paling2 harus lari2 lagi …Ini masih harus tunggu bagasi keluar dari pesawat – naik taxi ke bandara JFK – check in –pemeriksaan X-ray ( 1 kali sebelum imigrasi, satu kali sebelum naik pesawat, yang jauh lebih ketat daripada pemeriksaan penerbangan domestik)- proses imigrasi – dan boarding. Wah…kelihatannya jadwal saya bakal kacau. Penumpang yang duduk disebelah saya menganjurkan untuk pindah duduk ke depan supaya bisa cepat keluar dari pesawat, dan kemudian memang itu saya lakukan. Penumpang dikursi sebelah saya yang baru, seorang kakek2…menenangkan saya dengan meyakinkan bahwa pesawat lanjutan akan menunggu, setidaknya akan mengalihkan ke pesawat atau penerbangan lain yang sama tujuannya. Ini Amerika, katanya dengan bangga. Dalam hati saya…sok tau ah… saya sudah tau pasti penerbangan New York – Istanbul  sangat langka. Ada juga mungkin yang putar2 lewat sana sini dan bisa makan waktu lebih dari 24 jam.

Singkat kata setelah berhasil menembus jalanan macet, pakai taxi dengan tarip $26 dari La Guardia ke JFK, saya tiba di counter Turkish Airline tepat saat petugas sudah akan meninggalkan counter berhubung pesawat sudah take off…..duhhh!! Untung mereka masih ada ditempat, sehingga langsung saya diproses untuk bisa terbang ke Istanbul keesokan harinya, sekaligus menggeser penerbangan lanjutan dengan pesawat yang sama untuk ke Singapore tiga hari berikutnya. Saya juga dapat penginapan di Istanbul atas biaya Turkish Airline berhubung mereka tidak ada jadwal terbang ke Singapore pada hari yang sama. Beruntung juga tiket saya tidak hangus karena kesalahan dari delay penerbangan AA , yang waktu itu masih satu aliansi dengan Turkish Airline. Berarti diluar rencana saya harus bermalam di New York. Saya akan berusaha meng claim hotel pada AA, tapi lebih dulu saya harus menyimpan koper ke luggage storage supaya saya lebih bebas bergerak mengurus ini itu. Setelah koper saya titipkan di storage, saya bergegas mencari kantor penerbangan SQ untuk mengganti tanggal penerbangan ke Jakarta. Langsung confirm berhubung waktu itu bukan musim liburan anak2 sekolah, dan tanpa biaya tambahan apapun, padahal tiket saya sebetulnya non–endorsable non-returnable dan non-non lainnya.

Berikutnya saya harus cari counter AA yang bikin rusak jadwal saya, untuk claim hotel malam itu. Counter AA  beralasan macam2 menghindar dari tanggung jawab, sampai akhirnya saya terlalu capek untuk bertengkar. Tenaga dan emosi saya sudah terkuras habis untuk mondar mandir . Bayangkan saja kantor penerbangan yang satu dengan yang lain berbeda terminal , didalam kompleks bandara JFK yang begitu luas sehingga harus pakai sky train penghubung antar terminal……gratis, tapi letak stasiunnya dilantai paling atas dari tiap2 bangunan terminal, sehingga saya harus jalan naik turun tangga yang jaraknya lumayan jauh. Pada bulan november, dalam suhu udara sekitar 8 derajat saya masih bisa berkeringat….Akhirnya saya menyerah, beli voucher hotel untuk semalam di New York. Sebelum ke hotel ,saya terpaksa harus kembali ke storage untuk mengambil perlengkapan mandi, kosmetik, perlengkapan tidur dan tidak lupa perlengkapan minum kopi yaitu kumparan pemanas air dan kopi bubuk serta gula pasir bekal dari tanah air. Itu penting untuk menebus kelelahan saya setengah harian tadi. Semuanya saya masukkan dalam backpack, dan menumpang shuttle bus hotel. Betul2 bus yang penuh dengan crew dan penumpang transit ,sehingga check in hotelpun masih harus antri panjang. Saya sudah tidak berminat jalan2 ke kota  karena hari sudah gelap, lelah dan udara diluar sangat dingin plus hujan rintik2.

Keesokan harinya saya langsung jalan 2 ke kota naik subway sampai menjelang waktunya kembali ke airport. Kali ini tidak boleh telat check in, jadi waktu counter buka saya berada diurutan antri paling depan. Ada lagi urusan menjengkelkan , status saya yang kemarin sudah confirm berubah jadi waiting list nomor satu ,berhubung ada rombongan pejabat pemerintahan Turki yang harus pulang hari itu…. Jadi koper saya disisihkan diujung counter, sampai nanti kalau sudah dapat boarding pass baru koper naik ke conveyor. Tidak heran jalur ini selalu penuh, karena hanya terbang sehari sekali itupun tidak setiap hari, dan penerbangan lain jarang yang punya route ini.

Saat boarding tiba saya mendapat boarding pass. Berarti saya harus lari2 lagi ke gate. Ketika melihat koper saya masih tergeletak diujung counter, saya segera meminta petugas untuk menaikkannya ke conveyor sambil menunjukkan boarding pass ditangan. Tiba tiba petugas counter menarik kembali boarding pass saya berhubung yang punya hak muncul, betul2 berlangsung sekejap, dan pemilik sebenarnya langsung kabur ke antrian pemeriksaan barang.  Saya masih berusaha minta upgrade ke business class, tapi tidak ada seat sama sekali. Selain saya masih ada 3 penumpang waiting list lain yang juga batal terbang.

Tiket saya dirubah lagi untuk jadwal besok, sambil minta kepastian status. Katanya Confirm. Kejengkelan mulai timbul ketika tahu bahwa voucher hotel di Istanbul tidak bisa dialihkan ke New York. Berarti malam ini saya harus keluar biaya hotel lagi. Uhhh….. Belum hilang kejengkelan tadi, tiba2 saya sadar bahwa koper saya sudah terbawa masuk conveyor. Astaga……koper saya terbawa terbang ke Istanbul…tidak  tertahan langsung saya menangis. Kali ini kesalahan mereka tidak terampuni….spontan perbendaharaan Inggris marah2 saya keluar dengan lancar, hasilnya voucher akomodasi semalam disebuah hotel kecil dekat bandara, berikut airport transfer. Saya tidak perduli hotelnya seperti apa pokoknya saya tidak usah rugi lebih banyak lagi. Tidak lupa saya mengancam mereka untuk menahan luggage saya di Istanbul, dengan mengirimkan telex , karena tag dikoper saya adalah jurusan Singapore. Sekarang saya sudah kesusahan di New York tanpa perlengkapan apapun kecuali yang ada di backpack, jangan sampai di Istanbul sengsara lagi karena kopernya terbang ke Singapore. Saya tunggu sampai mereka memberikan copy telex yang isinya perintah menahan bagasi nomor sekian sekian di Istanbul sampai saya mengambilnya. Segera setelah menyerahkan copy telex, petugas2 counter serentak kabur, takut saya minta macam macam lagi.

Karena sudah tidak punya koper selain backpack, saya melenggang ke shuttle ‘minibus’  menuju ke hotel gratis yang letaknya dekat airport. Penumpang lainnya hanya 2 orang pilot yang selesai bertugas. Rupanya saya ditempatkan di corporate hotel khusus untuk pilot2 macam2 penerbangan.  Lumayan menyenangkan, pemandangan di dining room jadi segar ….isinya pilot muda pilot tua semua gagah dan ganteng2. Pantas para pramugari di pool di hotel lain. Sejenak lupa bahwa saya tidak punya selembar T shirt pun didalam backpack, rupanya masuk ke koper waktu buru2 memindahkan muatan tadi pagi, termasuk peralatan contact lens. Untuk mencari peralatan contact lens malam2 di daerah sepi begitu mana mungkin. Mana hotelnya style motel, begitu buka pintu kamar langsung brrr…..dinginnya minta ampun. Untuk ke dining room yang letaknya dibangunan lain saja saya sudah mengerahkan semua perlengkapan yang ada didalam backpack…sweater, shawl, jacket, topi wool. Itupun sesampai di dining room ,pemanas ruangan di dalamnya masih kurang memadai untuk kondisi saya yang lapar berat dan lelah fisik plus mental. Saya makan sekenyang kenyangnya malam itu untuk melawan hawa dingin. Lalu cepat2 saya kembali ke kamar, karena pemanas disana lebih baik dari di ruang makan. Saya sempat membuat kopi tubruk setelah puas berendam dalam air panas,hasilnya badan jadi segar lagi. Wah…saya lupa mengabari orang rumah tentang keterlambatan pulang ,pasti mereka sudah menunggu seharusnya hari ini saya sudah tiba di Jakarta. Baru bicara sebentar, batere hape saya keburu habis, setelah cari2 charger di backpack, kecut lagi hati saya…yang ada charger camera!!!! Dingin2 saya terpaksa ke lobby untuk cari  internet. Tipis harapan bisa pinjam charger hape, mengingat hape yang dipakai orang2 Amrik model kuno2.

Besok paginya setengah harian saya keliling kota lagi. Perjalanan selanjutnya luar biasa…bebas overweight yang kemarin, dapat business class, priority boarding, diantar sama manager airline sampai ke pesawat…..wah!!! Padahal masih pakai baju kemarin, dandanan seadanya…..cuma pakai bedak compact dan lipstick!! Sampai di Istanbul dijemput manager on duty , ambil luggage dan diantar ke hotel.