Study Banding

Dulu dulu tidak pernah terpikir bahwa saya akan kembali mengunjungi satu tempat berkali kali, karena sekali saja sudah menghabiskan banyak biaya. Ternyata setelah sekian tahun berjalan, bisa saja terjadi saya tiba ditempat yang sama, entah karena jalurnya -sekalian lewat- atau -yang murah lewat situ-.

Secara tidak disengaja pula saya menemukan beberapa foto ditempat yang sama, dikesempatan yang berbeda, tahun yang juga beda.

Eur banding3

Di Lion Monument Lucerne, selang 15 tahun singanya masih tetep tidur.

MAPI2

Machu Picchu-Peru, tahun 2006 dan 2011

MAPI3

Di Machu Picchu, ditempat yang sama dan posisi yang sama

Eur banding2

Selang 13 tahun ditempat itu saya berfoto lagi-Innsbruck

Eur banding1

Beda jauh ..13 tahun lebih tua…Salzburg

Sebetulnya ada banyak tempat lagi yang pernah saya kunjungi lebih dari sekali, tapi  tidak ketemu foto yang diambil tepat ditempat yang sama. Biasanya di kota kota transit, seperti LA, San Francisco, Amsterdam, Mexico City.

Pulau terapung di danau Titicaca

Uros2

Pulau terapung di danau Titicaca ada puluhan jumlahnya, berkelompok disuatu lokasi terpencil ditengah danau yang terletak diantara Bolivia dan Peru.  Untuk mencapai kesana, dari wilayah Peru, harus menggunakan speedboat dari Puno, kota kecil ditepi danau, yang berjarak 100 km lebih dari kota Juliaca (kota terdekat yang mempunyai bandara). Perjalanan dengan speedboat memakan waktu 2 jam, melewati sela sela tanaman rumput liar yang tangkainya tinggi tinggi, diantaranya ada yang lebih dari 1 m dari permukaan air danau.  Mengapa disebut pulau terapung dan apa anehnya?

Pulau pulau itu buatan suku Uro Aymaras, dahulunya karena terbuang dan tidak diakui identitasnya, mereka tidak berhak atas tanah daratan, sehingga mereka membuat pulau pulau untuk tempat bertahan hidup.

Uro Aymaras (Uros) memanfaatkan tanaman rumput liar yang banyak tumbuh didanau, mereka menyebutnya totora. Totora ini diikat vertikal, lalu digabungkan dengan ikatan ikatan lainnya, sehingga menjadi luas. Kemudian mereka menghamparkan totora secara horisontal dilapisan paling atas. Begitulah anyaman totora itu mengapung diatas danau. Untuk memelihara ketahanan ‘pulau’ , mereka harus menambah, mengikat dan mengganti totora yang rusak setiap hari. Ketika kita berjalan diatasnya, kadang kaki bisa terperosok agak kedalam, dan disitu terasa dinginnya air danau.
Demikian pula cara mereka membuat rumah, bahkan membuat perahu dari totora. Mereka hidup secara sederhana, dengan memancing ikan, memasak diatas tungku yang dialasi  batu untuk mencegah terbakarnya totora. Tanpa listrik dan teknologi apapun. Sekarang kehidupan mereka agak berubah dengan banyaknya turis yang berkunjung. Mereka mendapat penghasilan tambahan dengan membuat dan menjual hasil kerajinan tangan. Pulau yang saya kunjungi adalah Santa Maria, tergolong agak besar dibandingkan dengan 40 lebih pulau pulau lainnya, dihuni oleh 5 keluarga. Mereka tidak berbahasa spanyol seperti kebanyakan kaum Inca, tetapi berbahasa Aymara.

Pulau terapung sejenis, ada juga yang dapat dicapai dari wilayah Bolivia, tetapi jumlahnya lebih sedikit.

Macchu Picchu


Pagi jam 6.30 saya berangkat ke meeting point bus di samping plaza  San Fransisco, Cuzco.  Udara masih dingin dan kabut masih pekat dipagi itu. Cuzco letaknya di ketinggian 3400m, sehingga napas juga sudah agak agak sulit.

Jam 7 tepat bus berangkat ke stasiun Poroy, kira2 20 menit perjalanan. Stasiun Poroy kecil, dimana kita semua akan naik kereta Perurail Expedition jurusan Aguas Calientes.

Tiket sudah ditangan, harga tiket single journey adalah USD 49. Itu sebetulnya bukan tarip termurah yang saya inginkan. Pembelian online untuk tarip termurah (kereta Inca Trail ) sudah habis terjual sejak 6 bulan sebelum tanggal keberangkatan. Dengan nekat saya putuskan nanti beli di Lima atau di Cuzco siapa tahu masih ada tiket murah, ternyata sudah habis juga. Jadi terpaksa saya ambil yg Perurail Expedition. Keretanya lebih mahal dan lebih bagus dari yang saya pakai 4 thn sebelumnya pada kunjungan saya terdahulu ke Macchu Picchu. Yang ini pakai atap kaca dimana kita bisa melihat pemandangan dengan lebih leluasa. Ada lagi kereta lain yang taripnya lebih mahal..aaah…tak perlu lah..

 

Saya dapat tempat duduk di kereta bareng 4 cowo dari Argentina. Ngobrol2lah sama Naccho, yg ternyata arsitek interior juga, dia berbasis di Buenos Aires. Cogan banget, dia mengajari saya menyimpan coca leaves dimulut utk kesehatan dan menambah kekuatan, menurut tradisi di sekitar pegunungan Andes. Mungkin di kita seperti kebiasaan menyirih. Daun coca itu kecil , tipis tapi agak kaku, dan diujung bagian tangkai agak tajam sehingga harus dipatahkan dan dibuang sebelum daun kita letakkan dimulut. Karena terasa aneh dimulut,secara spontan terkunyahlah daun daun itu sehingga terpotong jadi kecil kecil, lalu karena tidak tertelan, daun2 itu saya buang waktu mau menyantap snack yang dibagikan di kereta. Saya heran kok Naccho bisa menelan daun yang kaku itu. Lalu dia menjelaskan daun daun itu bukan untuk ditelan, tapi tetap utuh tersimpan di mulutnya. Caranya dengan menyimpan disisi gigi sehingga menempel dipipi bagian dalam, bisa 5-6 lembar sekaligus . Simpan disitu terus seharian…OK saya coba lagi..minta daun coca yang baru, lalu saya taruh disisi gigi 4 lembar. 

Jam 11 kereta sampai di Aguas Calientes, artinya tempat yang hangat..padahal dingin juga. Aguas Calientes, begitu keluar dari stasiun langsung disambut dengan kios2 artenal souvenier. Jadi ingat lagi dulu juga lewat jalur yg sama. Keluar dari kios2 macam pasar, langsung ambil jalur jembatan, turun kebawah ketempat bus menunggu penumpang. Disana ada booth penjualan tiket bus.

Kita masing2 kemudian beli ticket bus pp harganya 15.50 soles. Naik bus mana saja boleh pokoknya semua bus sama jurusannya. Kira2 20 menit kita sampai di entrance Machu Picchu. Jalan menuju Machu Picchu ber zig zag, jalannya sempit dan masih terbuat dari tanah. Entry fee utk masuk sana 120 soles. Entry fee ini tidak bisa dibeli di tempat. Harus sudah beli di Lima, Cuzco, Aguas Calientes atau tempat2 lain diluar lokasi. Tiketnya pun diberi tanggal dan nama, yang dicocokkan dengan passport di entry gate. Jadi tidak mungkin pakai tiket orang lain atau dating pada tanggal yang beda dengan yang tertera di tiket. Butuh 10 menit untuk antri di toilet, bayar 1 soles untuk dapat selembar tissue, mungkin dinginnya bikin orang pada perlu toilet.
Untuk masuk ke site, kita bisa bergabung ke grup berbahasa Inggris atau Spanyol. Victor Hugo nama local guide yang bawa grupo Ingleso. Di Entry ketemu lagi sama Nacho, minigrup 4 orang dengan 1 guia/guide.
Lalu kita semua berangkat ke plaza observation dimana tempat paling baik utk buat foto, menuju kesana stepnya tinggi2, kira2 30 cm an dan dari batu. Itu merupakan bagian dari Inka Trail yg total panjangnya adalah 42 km mulai dari Sun Temple sampai ruins. Lumayan sesak napas, walaupun situs ini elevasinya lebih rendah dari Cuzco. 2430m !! Udaranya agak lebih hangat karena sudah mulai siang.

Setelah puas foto2 kita diajak ke bagian sacrified temple, dimana ada lubang dibatu utk masuk sinar matahari yang tiap tanggal 21 Juni dan 21 Desember sinar itu tepat jatuh di altar sacrified. Luar biasa… masih akurat sampai saat ini.
Ruinsnya semua sudah tanpa atap, tinggal  dinding penyangga2nya saja. Tempat ini ditemukan pertama kali 100 thn yg lalu oleh Hiram Bingham, orang US. Namanya kemudian dipakai untuk kereta executive mahal dari Cuzco ke Macchu Picchu. Ruins yg kita lihat adalah rural, rumah tinggal, Condor temple dimana ada kepala, leher putih dan sayap besar. Semua susunan batu disana dibuat dengan system interlock dan membuat dinding dengan kemiringan 3-6° dan utk antisipasi terhadap gempa.

Mereka juga menghindari tingkat lebih dari 2, untuk alasan yang sama.
 
Tempat lain yang ditunjukkan adalah tempat pemulihan tenaga (Power recovery). Disana ada batu granit besar yg mengandung quarzate dipercayai dapat memulihkan tenaga. Betul saja waktu tangan kita meraba batu itu ditempat tertentu terasa ada setrumnya. Buru2 saya menjauh, takut jam tangan rusak kena medan magnet atau listrik atau apapun lah..
Dari batu granit besar, kita dibawa ke storage (tempat mereka menyimpan bahan makanan) berupa bangunan yg masih ada atap straw nya.
Selesai sudah rangkaian kunjungan ke kompleks Machu Picchu.
Setelah bubar, boleh ambil jalan pulang masing2, boleh istirahat atau ambil foto2 disekitar situs, tapi tidak boleh berjalan balik melawan arah tanda panah. Begitu rapih dan jelas peraturannya sehingga tertib. Bisa dimengerti sebab ditempat tempat tertentu tangga batunya sangat sempit dan berbahaya, apalagi kalau digunakan untuk sirkulasi 2 arah..bisa jatuh ke jurang atau ke batu batu dibawah. Di pos keluar Machu Picchu saya minta stempel peringatan 100 th Machu Picchu, distempel di passport lengkap dengan tanggal kunjungan. Ooo….kesempatan langka yang membanggakan. Disepanjang tahun 2011 itu saja semua pengunjung dapat stempel khusus.
Setelah dapat stempel langsung ke pangkalan bus didepan entrance, naik bus yang mana saja boleh…semua jurusan Aguas Calientes .
Di Aguas Calientes, saya cari resto Hanaqpacha untuk dapat free lunch, paket dari tiket kereta.
Restonya agak jauh, sejajar sama rel kereta. Tempatnya lumayan bagus, lunchnya juga oke banget. Saladnya macam2, ada tomat ditabur daun2an dan olive oil. Ada bloemkol, pastel renyah. Lalu main dishnya ada nasi, spaghetti, chicken carbonara, chicken a la parilla, daging semur..pokoknya enak2.
Desertnya juga kue2 manis2, kecuali ada lapis 4 warna yg rasanya kayak kue talam. Ada cake isi nut+cream, ada pudding manis, ada buah asem banget.
Tentunya ada juga coca matte. Minuman wajib di Peru..daun coca lagi.
Setelah kenyang, langsung ke stasiun lagi, naik tangga menuju ke pasar untuk belanja2 souvenir, oya lewat jembatan gantung dulu. Jam 16.43 kereta berangkat ke Poroy, di kereta dapat lagi minuman panas, snack yg isinya pretzel dan coklat. 
Sampai Poroy sudah jam 20.30 dijemput sama bus yg tadi pagi antar kita ke stasiun. Di drop di plaza San Fransisco lagi, lalu saya jalan jalan di plaza d Armas.
Dari Plaza d Armas naik taksi ke hotel, 3 soles..padahal dekat aja,tapi takut karena jalannya sudah sepi.
Coca leaves ternyata masih dimulut, padahal saya sudah lunch..sudah makan snack di kereta…hahaaa…saya sudah berhasil jadi Andean, betul manjur juga rupanya coca leaves..saya tidak berasa cape atau pegal2 padahal seharian manjat2 batu di Macchu Picchu.. besok besoknya saya selalu cari coca leaves yang umum disediakan dikeranjang kecil dimeja meja resto bareng merica dan garam. Baru tahu khasiatnya dan ketagihan..