New7Wonders

logo-the-new-7-wonders-of-the-world

Ketika saya bergabung dengan local tour di Vietnam untuk mengunjungi Halong Bay, sang Tour Leader dengan bangga menerangkan bahwa Halong Bay sudah berhasil mendapatkan pengakuan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia versi baru untuk kategori keindahan alam. Mulailah disebut satu persatu apa saja ke 6 lainnya.

  1.  Jeju Island di Korea, sudah pernah saya kunjungi th 2008
  2.  Iguazu waterfall di perbatasan Brazil dan Argentina, sudah juga tahun 2009.
  3.  Amazone River di South Amerika kunjungan tahun 2009
  4.  Halong Bay di Vietnam sudah 2 kali kesana, pertama tahun 2003 sebelum masuk New7Wonders, kemudian thn 2015.20141005_151955-001
  5.  Table Mountain di Afrika belum pernah dan belum ingin kesana.
  6.  Puerto Princesa Underground River di Philipine baru pernah dengar dan ingin kesana kapan kapan.
  7.  Komodo Island di Indonesia belum pernah…keterlaluan ya? Tapi sesungguhnya saya memang tidak ingin kesana, karena saya  sangat takut dengan hewan jenis ini dan kawan kawannya: buaya, biawak, kadal bahkan cecak!!!

 

Bagaimana dengan New7Wonders of the world? Ternyata saya sudah lengkap mengunjunginya sebelum voting dan hasilnya diumumkan.

1.Colloseum  di Roma , Itali.  Berkunjung kesana pada th 1997Colloseum Rome2. Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brazil . kunjungan th 2008Christ Redeemer1 3. Great Wall di Beijing, kunjungan th 1994???  foto dan negatif nya tidak ketemu….berarti harus kesana lagi.    Rencana April 2017 sekalian ke Korea Utara…sudah kesampaian.

4.  Macchu Pichu di Peru , 2 kali kunjungan th 2006 dan 2011 tepat perayaan 100 th ditemukannya MP

mapi21

5. Taj Mahal di Rajashtan , India.  kunjungan th 2007

TajMahal1

6. Chichen Itza di Yucatan, Mexico. Kunjungan th 2009

ChichenItza1

7. Petra di Yordania. Kunjungan th 2008DSC03967b

Ada lagi 7Wonders of the Ancient World. Sebagian sudah pernah saya kunjungi, ada yang memang belum, bahkan ada yang gagal kunjung karena salah baca jadwal ferry.

  1. The Great Pyramid of Egypt. Tepatnya th 2008.DSC04283h
  2. The Hanging Garden of Babylon, ruinsnya belum pasti  dimana ; sekitar Babylon di Iraq atau di Nineveh jauh disebelah utaranya Babylon, bahkan ada beberapa literatur yang mengatakan sebetulnya itu fiktif.
  3. The Statue of Zeus at Olympia, Greece. Belum pernah saya kunjungi, walaupun sudah 2x ke Yunani.
  4. The Temple of Artemis at Ephesus, pernah sampai kesini th 2007A15-TurkEphesus14
  5. The Mausoleum of Halicarnassus at Bodrum,  belum pernah juga.
  6. The Colossus of Rhodes, Greece. Ini ada cerita sendiri tentang gagal sampai gara2 salah baca tanggal jadwal ferry berangkat..doooh
  7. The Lighthouse of Alexandria, Egypt. Kunjungan th 2008, tinggal dasarnya.Lighthouse Alexandria

Advertisements

La Boca Buenos Aires… tango dan sepak bola

La-Boca-District-Argentina

La Boca memiliki daya tarik tersendiri untuk wisatawan sekalipun sejatinya berupa pemukiman petak petak kecil dan padat  dikawasan Selatan Buenos Aires. Rumah rumah dikawasan itu berdinding papan atau seng gelombang, semula memang dibangun dan dihuni pekerja kasar pelabuhan , kemudian dinding itu dicat warna warni menggunakan cat cat sisa kapal. Jangan  bicara soal desain bangunannya….dari segi pandang arsitektur jelas acak acakan, menjadi unik karena berbagai macam komponen material, warna , unsur  dan detail campur jadi satu.

Mayoritas penghuni wilayah ini adalah imigran dari Genoa Italy, bahkan sekarang setelah banyak yang mengalami perubahan fungsi masih tetap di dominasi dengan unsur Italy, termasuk menu pizza banyak ditawarkan di cafe cafe disana. Wilayah ini dikenal agak ‘bahaya’ untuk kalangan turis, karena itu saya memilih ikut walking tour gratis yang berangkat dari plaza dikawasan San Telmo, daerah aman berbatasan dengan La Boca. Kenapa dibilang bahaya karena dari sejarahnya dulu daerah itu sarang pemberontak kaum Genoa yang meminta otoritas khusus bahkan mereka memproklamirkan daerah mulut sungai itu dengan nama Republica de La Boca, punya presiden juga. Pernah mengalami  suatu era La Boca menjadi tempat pembuangan budak kulit hitam. Tetapi sekarang La Boca sudah menjadi tempat yang agak lebih ramah,  Caminito Street dipenuhi  cafe dengan  ‘tarif turis’ , pelukis jalanan dan seniman bohemian yang menggelar karyanya.

Caminito ini juga menjadi tempat yang asik buat ber’tango’ baik di cafe ataupun dijalanan. Ada musik dari compo yang di stel keras dipinggir jalan, atau diiringi pemain akordeon, lalu ada yang ‘ngamen’ dengan berdansa tango *menggelar topi didekat mereka menari*, yang lewat juga boleh spontan ikutan dansa, yang mau belajar  gratis dijalanan juga bisa….betah rasanya menonton kaki kaki lincah melakukan gerakan voleo, gancho, ocho, plano , giro, sacada dan lain lainnya. Saya memang pecinta Tango Argentine, sampai sekarang masih terus belajar mati matian untuk bisa melakukan gerakan mulus dan indah…sulit . Di Caminito Street ini lagu lagu Carlos Gardel bergema dimana mana, dia penyanyi lagu2 tango pujaan orang Argentina, walaupun aslinya imigran kelahiran Perancis. Bahkan poster posternya dipasang di cafe, dilukis didinding bangunan, pokoknya penyanyi legendaris walaupun sekarang sudah meninggal. Di cafe cafe daerah dekat San Telmo, kelas dan harganya lebih tinggi lagi, musiknya life dan yang pasti ada akordeon. Satu hal lagi yang top dari distrik ini, La Bombonera stadion berbentuk kotak coklat raksasa…stadionnya Boca Juniors, disitu tercetak pemain pemain top sepak bola…diantaranya Diego Maradona. Saya tidak bisa cerita banyak soal sepak bola  karena sangat tidak hobi..

Cataratas Iguazú sisi Argentina

Orang Argentina menulisnya Iguazú, orang Brazil menulis Iguaçu atau Iguassu. Baik Argentina maupun Brazil berhak atas Iguazú , karena letak dari air terjun itu ada diperbatasan kedua negara tersebut, bahkan Paraguay juga memiliki  bagian yang terletak di Taman Nasional Iguazú. Unesco menetapkan Iguazú sebagai warisan yang dilindungi. Kalau ingin puas menjelajah Taman National Iguazú, minimal perlu waktu 2 hari, satu hari untuk melihat dari sisi Argentina, satu hari dari sisi Brazil. Walaupun hanya menyeberang pos kecil , diperbatasan tetap berlaku prosedur masuk dan keluar negara . Hari pertama saya menjelajah wilayah Argentina, setelah malam sebelumnya tiba  dari Buenos Aires.  Pagi pagi saya menunggu bus yang akan membawa ke Taman National Iguazú, dimana di halte tempat saya menunggu bis terlihat cowo India yang kemarin menginap di HI (Hostelling International) yang sama di Buenos Aires. Kemudian kami mengobrol, dia di Iguazú juga menginap di HI tapi beda lokasi dengan saya. Namanya M, mahasiswa kedokteran di London, keluarganya imigran dari India. Saya memang rada2 kurang suka dengan orang India ditempat tempat wisata (maaph) , karena biasanya mereka suka seenaknya minta tolong motretin tanpa peduli kita sedang sibuk motret. Kemudian terbukti M ini juga begitu, tapi kalau dia minta tolong motret saya pura2 tidak dengar, atau saya pelototin, langsung cari korban orang lain disekitarnya.

Tiket masuk Taman National Iguazú berlaku sehari penuh, tapi bila besoknya ingin masuk lagi bisa membeli tiket dengan setengah harga, syaratnya harus minta stamp di tiket waktu keluar Taman. Kompleks taman ini luas sekali, atraksi utamanya adalah air terjun terbesar yang namanya Garganta del Diablo yang artinya Devil’s Throat !!! Kesitulah tujuan pertama saya. M  juga mau kesana dulu, jadi kita sama sama naik Tren Ecologico, kereta beratap dengan bagian samping terbuka, gratis tidak perlu bayar lagi. Kita tinggal bawa peta, semua petunjuknya lengkap ada ditiap tiap pemberhentian kereta. Selain Tenggorokan Setan banyak lagi air terjun yang lebih kecil, walaupun kenyataannya besar besar juga. Kami berhenti di stasiun terakhir Garganta del Diablo, kemudian berjalan kaki mengikuti jalan setapak melewati hutan menuju ke air terjun.  Setelah sampai ke area terbuka, terlihat percikan air yang membubung ke atas, suaranya sudah gemuruh kedengaran sementara air terjunnya sendiri belum kelihatan. Ini memang upper circuit, memandang Garganta del Diablo dari atas. Semakin dekat semburan air semakin kencang terbawa angin, sehingga dalam waktu sekejap kami sudah basah sebadan badan. Lalu saya memutuskan untuk memakai jas hujan plastik transparan beli di pintu masuk tempat beli tiket. Lumayan melindungi badan dari serbuan angin bercampur air. Kami berjalan terus mendekat kepagar pengaman tempat observasi terdekat dengan air terjun. Penggalan terakhir sebelum itu adalah jembatan beralas besi teralis melintas diatas Rio Iguazú . Ketika sampai di tepi air terjun, sudahlah tidak bisa berkata kata lagi, bergolaknya air sebelum jatuh, mengeluarkan suara gemuruh liar mengerikan pas betul kalau dinamakan tenggorokan setan..percikan air yang jatuh kebawah sana terlontar lagi keatas jadi bintik2 air halus, bisa mendadak ada angin yang meniup kearah kita dan seketika lensa kamera basah..bahkan karena derasnya aliran, tempat jatuhnya air tidak terlihat karena selalu tertutup cipratan air .

Kami tidak bisa berlama lama di deck yang sempit itu karena terus terdorong oleh orang orang lain yang akan melihat dahsyatnya Garganta del Diablo. Tujuan berikutnya adalah Salto dos Hermanas. Untuk menuju kesana kami harus kembali ke stasiun kereta awal, kemudian masuk hutan lewat jalan setapak yang arahnya menurun. Ini dinamakan jalur bawah (lower circuit). Di bangunan menara Salto dos Hermanas, ada 2 pilihan …naik lift ke lantai 3 melihat air terjun ditengah tengah, atau turun sekitar 5 lantai untuk main air di air terjun. Kontras sekali yang mau naik ke dek atas pakai jas hujan, sementara yang mau main air dibawah sudah siap dengan bikini dan baju renang. Disini deck nya lebih dekat lagi ke air terjun, bahkan kadang  seperti diguyur air hujan. Bayangkan mau motret tiba2 kesiram air dari arah yang tidak jelas..bagus saja kamera saya tidak rusak waktu itu, dalam sehari sudah 2x kebasahan. Lagi sibuk ngelap lensa kamera, M kumat narsisnya, berhubung ditempat itu sepi tidak banyak orang, bolak balik dia minta tolong difoto dengan background air terjun..halaaah . Foto dia lumayan, sementara dia motret saya dengan sembarangan, lensa kamera penuh bintik2 air tidak dibersihkan dulu..betul kan tebakan saya. Selanjutnya saya ingin naik perahu dibawah guyuran air terjun, eh si M mau juga..jadi kami turun terus ke dermaga pemberangkatan perahu, antrinya panjang dan naik ini harus beli tiket lagi. Masing masing kami dipinjami pelampung, dan diberi kantong terpal tahan air untuk menyimpan barang2, ransel, sepatu dan lain lain.  Jas hujan saya kenakan lagi sebelum pelampung. Akhirnya berangkat juga kami naik perahu karet bermotor , mengarah ke air terjun Mbiguá, disebelahnya ada air terjun San Martin. Pertama perahu berjalan normal, lalu tiba tiba berhenti ketika posisi perahu frontal dengan air terjun, ambil ancang2 dan perahu di gas melaju seolah mau menembus tirai air terjun. Otomatis kami menjerit jerit dan pada saat sudah dekat sekali tiba2 perahu dibelokkan sejajar air terjun…byuuuuur…air terjun sebagian masuk kedalam perahu yang melaju miring2 membuat kami semua berteriak teriak lagi..sambil merasakan guyuran air dari segala arah…basah semua dari kaki sampai kepala. Rasanya persis seperti naik jet coaster di taman hiburan, bedanya ini beneran. Sementara itu crew perahu merekam dengan handycam, ujung ujungnya untuk dijual pada penumpang..saya beli, rekamannya nanti diantar ke hostel..sssstt..M ga beli, tapi dia kemudian bilang mau pinjam untuk direkam di hostelnya, dasar.

Sesudah itu kami masih menjelajah beberapa air terjun lagi, ada yang namanya Salto Bernabé Méndez, Salto Adán y Eva (Adam dan Hawa), Salto Bossetti.. Seharian basah kuyup main air terjun, kemudian menjelang gelap kami kembali naik bus ke kota.

Petualangan di Patagonia

Patagonia atau glacier dapat dilihat dari 3 arah, pandangan dari atas dimana glacier terlihat sebagai es berbentuk lancip lancip menjulang keatas air, kemudian dari arah danau terlihat sebagai dinding es yang tinggi, dan satu lagi petualangan berjalan melintasi tengah tengah glacier itu sendiri. Saya menjalani ketiga  tiganya, dengan pengalaman yang berbeda satu dengan lainnya. Patagonia, saya capai dari El Calafate di propinsi Santa Cruz  Selatan Argentina. Untuk dapat melihat glacier didanau Argentina, harus melalui Los Glaciares National Park. Dengan bus umum, perjalanan dari El Calafate ke taman Los Glaciares sekitar 1,5 jam. Dalam taman Los Glaciares ,  sudah disediakan jalur yang dibatasi railing kayu dan beralas papan papan deck untuk dapat menikmati pemandangan glacier dari arah ketinggian. Glacier terlihat berwarna putih kebiruan indah sekaligus ujung ujung tajamnya kelihatan mengerikan. Jalur itu ada ditepi danau Argentina, dengan berjalan kaki selama satu jam menuju kearah dermaga tempat pelancong dapat naik kapal untuk keliling danau .  Untuk naik speedboat melintasi danau mendekat kearah Glacier Perito Moreno, harus membeli tiket extra tidak termasuk tiket masuk taman. Ajaib bagaimana es yang tampak lancip lancip  mengapung diatas danau dilihat dari balkon observasi taman Los Glaciares, sekarang terlihat sebagai dinding es yang tinggi sekali bahkan  mencapai 60 meter seolah muncul dari air danau. Sesungguhnya itu adalah bagian dari gunung es yang sangat besar dibawah permukaan air, sambungan dari dataran es di kutub Selatan. Saya beruntung waktu itu melihat patahan es sebesar dinding gedung 3 lantai jatuh ke air danau. Suaranya seperti dentuman meriam!! Retakan yang menjalar mengeluarkan suara meledak ledak..seperti tembakan keras sekali, lalu detik berikutnya tak kalah dahsyat saat retakan itu terbanting menyentuh air danau…byuuuuuurrr airpun memercik kesegala arah….dan kapal yang kami tumpangi pun selama beberapa saat mengayun hebat, karena jaraknya dekat sekali  cukup mengagetkan. Sebenarnya itu adalah proses yang sangat alami, tapi tidak tiap saat terjadi dan terlihat. Setelah tenang, terlihat potongan2 es dalam bentuk dan beragam ukuran mengapung diair. Bongkahan es itu tidak mencair karena air danau itu sendiri dinginnya seperti air es. Dari jauh sepertinya glacier itu sangat tajam2 dan tidak mungkin dilalui orang, tapi saya sudah terlanjur booking rombongan trekking melintasi glacier. Mau batal tidak mungkin karena harganya cukup mahal dan saya sudah bayar semua. Trekking yang saya ikuti katanya tidak berbahaya, ice trekking istilahnya .

Berangkatnya dari dermaga yang lain, kembali lewat jalur observasi, kemudian naik bis ke port Bajo de las Sombras masih didalam taman Los Glaciares. Dari port Bajo de las Sombras naik boat lagi kearah belakang dinding glacier yang tadi terlihat dari balkon di jalur observasi. Sekarang petualangannya beda dari yang tadi tadi. Begitu kapal merapat ketepi airnya jernih sekali berkilauan seperti kristal, karena dibagian dasar air adalah es murni . Kemudian rombongan dibagi menurut grade yang kami pilih, group mini trekking paling banyak jumlahnya ada 20 orang,  sedangkan makin tinggi gradenya makin sedikit pesertanya. Rombongan 20 orang ini berangkat dengan 4 pemandu. Rombongan ice trekking jumlahnya 8 orang termasuk saya dan 2 orang pemandu . Masing masing kami dipinjami kapak kecil dan crampon, berupa besi yang diikatkan ke sepatu dengan paku paku dibawahnya, perlengkapan lain seperti baju hangat, topi dan lunch box harus bawa sendiri. Tempat beli makanan hanya ada di pelataran bus didepan gerbang Los Glaciares, sebelum berangkat ke Bajo de las Sombras, saya membeli lunch box disitu. Kami diberi pengarahan singkat cara berjalan dengan crampon, kalau menanjak dengan ujung kaki depan, kalau turun dengan tumit menancap di es. Mula mula perjalanan diatas es datar yang luas, melewati genangan air yang membentuk danau berwarna biru , lama lama makin sempit sampai akhirnya hanya sebesar lorong yang hanya bisa dilalui seorang seorang. Kami sudah masuk kesela sela glacier. Karena tempat berpijak semakin tidak beraturan dan sempit, kapak kecil sangat membantu untuk berpegangan dengan cara ditancapkan ke dinding es. Diapit dinding es dikanan kiri tubuh rasanya tidak begitu dingin dibanding diatas boat dan di balkon observasi yang banyak angin. Saya bahkan sempat berkeringat bukan karena gerah, tapi ngeri terpeleset karena berjalan dengan crampon yang berat dan kaku sekali. Kami terus berjalan sampai tiba disatu lubang mirip goa tapi dari es, disini agak lebih lebar berbentuk seperti terowongan bulat, dan warna dindingnya berubah menjadi lebih bening dan berkilau kilau. Mendadak bunyi disekitar kami berubah jadi sangat hening…kami sudah masuk kedalam glacier. Indah sekali suasananya, kami berhenti beberapa kali untuk berfoto foto. Pantulan suara kami didalam goa es beda sekali dengan di goa batu atau tanah…jernih sekali. Crampon dan kapak yang menancap di es berdenting denting memantul balik seperti musik. Sesekali kami dikejutkan dengan bunyi bunyian aneh, seperti suara orang bersiul tapi fals , makin keras lalu hilang perlahan. Pemandu bilang itu ada glacier diluar sana retak. Langsung dagdigdug…goa ini bakal runtuhkah? Pemandu hanya tertawa..itu jauh sekali. Saat berikutnya berbunyi seperti binatang melolong mengerikan atau mirip mirip begitu, katanya pucuk glacier patah. Lain waktu bunyinya seperti mobil direm mendadak lalu slip…ciiiiiiiit..katanya angin nabrak dinding glacier. Wah banyak bunyi bunyian aneh  walau jedanya lama. Kami berjalan didalam lorong goa kira kira 30 menit sambil terkagum kagum, sebab setiap tikungan pasti memberikan pemandangan yang berbeda. Kami tidak membawa lampu tetapi didalam terang benderang seolah ada cahaya biru dimana mana. Kejutan selanjutnya ketika kami ada diakhir goa…tiba tiba cahaya jadi sangat menyilaukan karena terang diluar memantul ke dataran glacier diudara terbuka. Kami muncul diatas glacier yang runcing2 itu!!… Walaupun datarannya terlihat luas, tetapi terlihat banyak retakan jalur  sempit sempit yang menerus kebawah , jurang es..wah saya begitu kagetnya sampai tidak berani menapak jauh dari mulut goa. Memang indah diatas glacier bisa memandang danau Argentina sekaligus bukit berpohon di taman Los Glaciares , jauh disebelah sana terlihat Mt Fitz Roy yang legendaris dan puncak gunung idaman pendaki es, disebelahnya adalah pepohonan taman National Torres del Pine, bagian perbatasan dengan Chile. Patagonia memang ada diperbatasan Chile dan Argentina dibenua Amerika ujung paling Selatan. Setelah kami puas berfoto foto, pemandu memanggil kami untuk sama sama toast setelah membuka botol champagne  atau wishkey ? (tidak penting, saya toh tidak bisa minum jadi tidak tahu perbedaannya) yang sebelumnya direndam dalam cekungan es, bahkan mereka memasukkan juga kristal es kedalam gelas.  Kemudian kami diberi waktu 30 menit untuk lunch dan explore diatas glacier. Karena kami ada diatas glacier angin yang bertiup lebih terasa dingin dan kencang dibanding didanau, sampai saya harus berlindung dibalik pemandu yang badannya paling besar supaya bisa makan dengan tangan tidak gemetaran. Kami semua minum air glacier yang tertampung dicekungan cekungan es. Air murni jernih berkristal es kecil kecil..air es alam!! Pantas tadi waktu saya mau beli air kemasan kasirnya bilang tidak usah berat2 bawa,  diatas banyak air, dalam pikiran saya disediakan air minum gratis, ternyata air glacier. Setelah semua selesai makan, kami kembali menuruni glacier lewat sisi yang lain, kali ini makin heboh karena kami harus turun satu persatu dengan tali untuk mencapai dasar glacier yang terendah. Saya berhasil turun tanpa gagal…duhhhh pantas disuruh makan dulu, karena butuh tenaga buat menancapkan kapak ke dinding es ekstra lebih kencang dibanding didalam lorong es. Foto2 ice trekking disini terpaksa pinjam sana sini untuk menggambarkan keindahan sekaligus dahsyatnya perjuangan berjalan di glacier karena persis sebelum trekking saya mengganti memori card di kamera, kemudian kamera itu dijambret pencoleng di Buenos Aires 2 hari berikutnya. Yang saya tangisi bukan kameranya, tapi foto2 ice trekking hilang semua sebelum sempat dipindahkan ke netbook. Itulah kadang malas memindahkan foto2 akibatnya menyesal.

Yerba Maté

2914587-cup-from-calabash-with-yerba-mate-tea-and-straw

taken from 123RF

Yerba Maté adalah sejenis tanaman yang tumbuh di Amerika Selatan, khususnya didaerah Argentina, Brazil, Paraguay dan Uruguay.  Jenis tanaman ini diambil daunnya untuk dikonsumsi sebagai minuman dengan cara diseduh seperti teh. Cara tradisional membuat dan menikmati Yerba mate unik.  Wadah dan pipa pengisapnyapun khusus. Saya belajar menyeduh Yerba Maté di El Calafate, jauh di selatan Argentina, dengan berkali kali melakukan kekeliruan.

Wadah versi original adalah terbuat dari buah labu kecil (squash) yang dikeringkan , kemudian sesuai perkembangan jaman mereka membuat dari bahan2 lain dengan bentuk dan hiasan bervariasi,  tetapi selalu pada bagian atas mengecil.

Pertama tama yang dilakukan untuk menghidangkan Yerba Maté adalah mengisi wadah dengan air  sepertiga ketinggian wadah, lalu celupkan pipa pengisap kedalamnya. Setelah itu tuangkan serbuk Yerba Maté sampai setengah volume wadah. Kemudian serbuk itu harus ditekan tekan dengan sendok sehingga semua serbuk bercampur dengan air dibawahnya. Lalu tambahkan serbuk lagi sampai bibir wadah, tekan tekan lagi sampai padat, dengan posisi pipa tetap di dalam wadah. Setelah itu tuangkan air mendidih sehingga turun perlahan lahan kedalam serbuk sampai memenuhi wadah. Yerba Maté siap disajikan.

Bagaimana minumnya? Mengingat serbuk padat memenuhi wadah sampai di mulutnya? Jangan bayangkan minum Yerba Maté sama seperti minum teh. Caranya dengan disesap sedikit sedikit melalui pipa penghisap tadi. Dibagian bawah pipa penghisap terdapat lubang2 kecil seperti saringan, untuk mencegah serbuk ikut tertelan. Itulah sebabnya mengapa pipa harus ditaruh lebih dulu sebelum  serbuk dipadatkan. Pipa itu terus tertanam didalam wadah, kalau airnya habis tinggal tuang lagi air panas, begitu sepanjang hari. Rasanya pahit getir luar biasa…..orang orang local minum Yerba Maté seperti minum kopi atau teh, khasiat baik buruknya kurang lebih sama.

Pipa penghisap (sedotan) ada yang melengkung, ada yang lurus. Baik wadah maupun sedotannya didisiain dengan serius ditambah batu2 hias, diukir , dililit anyaman, berkaki dan macam macam lagi.