New7Wonders

logo-the-new-7-wonders-of-the-world

Ketika saya bergabung dengan local tour di Vietnam untuk mengunjungi Halong Bay, sang Tour Leader dengan bangga menerangkan bahwa Halong Bay sudah berhasil mendapatkan pengakuan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia versi baru untuk kategori keindahan alam. Mulailah disebut satu persatu apa saja ke 6 lainnya.

  1.  Jeju Island di Korea, sudah pernah saya kunjungi th 2008
  2.  Iguazu waterfall di perbatasan Brazil dan Argentina, sudah juga tahun 2009.
  3.  Amazone River di South Amerika kunjungan tahun 2009
  4.  Halong Bay di Vietnam sudah 2 kali kesana, pertama tahun 2003 sebelum masuk New7Wonders, kemudian thn 2015.20141005_151955-001
  5.  Table Mountain di Afrika belum pernah dan belum ingin kesana.
  6.  Puerto Princesa Underground River di Philipine baru pernah dengar dan ingin kesana kapan kapan.
  7.  Komodo Island di Indonesia belum pernah…keterlaluan ya? Tapi sesungguhnya saya memang tidak ingin kesana, karena saya  sangat takut dengan hewan jenis ini dan kawan kawannya: buaya, biawak, kadal bahkan cecak!!!

 

Bagaimana dengan New7Wonders of the world? Ternyata saya sudah lengkap mengunjunginya sebelum voting dan hasilnya diumumkan.

1.Colloseum  di Roma , Itali.  Berkunjung kesana pada th 1997Colloseum Rome2. Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brazil . kunjungan th 2008Christ Redeemer1 3. Great Wall di Beijing, kunjungan th 1994???  foto dan negatif nya tidak ketemu….berarti harus kesana lagi.    Rencana April 2017 sekalian ke Korea Utara…sudah kesampaian.

4.  Macchu Pichu di Peru , 2 kali kunjungan th 2006 dan 2011 tepat perayaan 100 th ditemukannya MP

mapi21

5. Taj Mahal di Rajashtan , India.  kunjungan th 2007

TajMahal1

6. Chichen Itza di Yucatan, Mexico. Kunjungan th 2009

ChichenItza1

7. Petra di Yordania. Kunjungan th 2008DSC03967b

Ada lagi 7Wonders of the Ancient World. Sebagian sudah pernah saya kunjungi, ada yang memang belum, bahkan ada yang gagal kunjung karena salah baca jadwal ferry.

  1. The Great Pyramid of Egypt. Tepatnya th 2008.DSC04283h
  2. The Hanging Garden of Babylon, ruinsnya belum pasti  dimana ; sekitar Babylon di Iraq atau di Nineveh jauh disebelah utaranya Babylon, bahkan ada beberapa literatur yang mengatakan sebetulnya itu fiktif.
  3. The Statue of Zeus at Olympia, Greece. Belum pernah saya kunjungi, walaupun sudah 2x ke Yunani.
  4. The Temple of Artemis at Ephesus, pernah sampai kesini th 2007A15-TurkEphesus14
  5. The Mausoleum of Halicarnassus at Bodrum,  belum pernah juga.
  6. The Colossus of Rhodes, Greece. Ini ada cerita sendiri tentang gagal sampai gara2 salah baca tanggal jadwal ferry berangkat..doooh
  7. The Lighthouse of Alexandria, Egypt. Kunjungan th 2008, tinggal dasarnya.Lighthouse Alexandria

Advertisements

Kartu Pos dan Kantor Pos

20150408_120413Edit

Traveling saya sekarang bertambah target. Karena saya mendapat teman-teman baru, diantaranya postcrosser, maka saya selalu menyempatkan diri membeli kartupos, kemudian mengirim dari sana. Masalahnya tidak semua penjual kartu pos menjual perangko. Jadi saya juga harus mencari kantor pos.

Ada banyak serba serbi soal mendapatkan kartupos. Disatu sisi, mencari selembar kartupos buat teman, merupakan keasikan tersendiri. Saya selalu berusaha membeli yang bagus, unik dan mewakili tempat yang saya kunjungi. Tidak sembarangan, kalau bisa dapat yang bagus dan tepat untuk teman yang saya tuju, menimbulkan kepuasan tersendiri.

Ada kalanya saya menemui kesulitan dalam mendapatkan kartupos yang tepat. Biasanya saya membeli minimal 4 lembar kartupos ,  dengan gambar yang masing masing berbeda. Hanya kalau terpaksa bila tidak ada pilihan lainnya, saya membeli gambar yang sama. Dan hanya bila terpaksa saya membeli dikantor pos, yang umumnya tidak memiliki banyak pilihan.

Ada cerita sendiri tentang hunting kartupos. Saya baru sadar belum membeli kartupos ketika malam hari di Bratislava, padahal keesokan harinya saya sudah berangkat ke kota lain. Setelah ber tanya2 kepada orang lokal, saya mendapat info kantor Bratislava buka sampai malam, luarnya biasa biasa saja tapi  interiornya keren.. disana jual kartupos juga. Yaa..tersampaikan juga niat mengirim kartupos ke teman2 postcrosser.

Yang bikin senewen adalah saat saya mencari lokasi kantor pos di Chisinau (Moldova). Di peta yang saya pegang, tergambar letak kantor pos begitu mudah di tepi jalan besar di pusat kota yang segitu-gitu saja. Tiga kali lebih saya bolak balik di sekitar situ, tidak ketemu tanda tanda kantor pos. Ketika saya hampir putus asa, tanpa sengaja saya masuk ‘toko’ yang sedang promo alat alat elektronik. Tanpa disangka itulah kantor pos nya. Hari Minggu buka. Ohlala…. di lobby kantorpos ada kegiatan komersial. Pantas saya mondar mandir tidak ketemu.

Post Office Chisinau

Kantor pos di Chisinau, tidak ada signage POST,POSTA atau mirip miriplah. Foto  dari google map

Pengiriman postcard dengan cara unik adalah ketika saya ingin mengirim dari Transnistria, negara yang belum diakui. Berhubung visa masuk ke Transnistria hanya berlaku 1 hari, waktu saya untuk explore Transnistria sangat terbatas, otomatis saya tidak cukup waktu untuk mencari postcard. Apa yang saya lakukan adalah minta tolong orang hostel yang pada waktu ngobrol2 ketahuan bahwa dia sering ke Transnistria untuk mengantar tamu. Untuk mengurangi resiko salah tulis alamat, karena mereka menulis menggunakan abjad Cyril, maka saya menuliskan alamat masing masing tujuan, berikut salam yang akan saya sampaikan, diatas kertas dengan tulisan tangan saya.

Kemudian saya menitipkan sejumlah uang untuk membeli postcard dan perangko, lalu saya memberikan kertas kertas yang sudah saya tuliskan tsb, tinggal ditempel ke kartupos. Apa boleh buat untuk saat itu tidak ada kesempatan bagi saya untuk memilih sendiri kartupos untuk sobat sobat postcrosser . Cukup salut untuk person yang saya titipi tersebut. Misi saya tercapai , teman teman yang saya kirimi menerima kartupos kartupos tsb 3 bulan kemudian.

Ada kantorpos jenis keliling yang saya temui di pusat kota tua Krakow. Kantor pos nya berbentuk charriot antik, dimana mereka menjual kartupos dan perangko, sekaligus ada kotak posnya.

IMG_1751

Kantor pos keliling di Old Town Square Krakow

Kantor pos paling shocking adalah di Rovaniemi, desa kecil di Finlandia tengah yang memproklamirkan diri sebagai desa asal usul Santa Claus. Perangkonya bertema Santa klaus, postcard yang dijual juga bergambar Santa Claus. Bisa juga kita berfoto dengan Santa Claus, kemudian dicetak di kartupos, tapi m a h a l… Suatu saat saya akan kesana lagi dibulan Desember supaya terasa sukacita jaman masih kecil, dimana Santa Claus adalah makhluk idaman di musim Natal, ditambah suasana bersalju di atap atap bangunan wow..pasti sangat memukau. Sekaligus mengirim kartupos kerumah..cita cita…

Pengalaman lain berkaitan dengan kantor pos adalah ketika saya ada keperluan mengirim paket ke Amsterdam, karena barang bawaan saya sudah terlalu berat disetengah perjalanan. Waktu itu saya sedang ada di Sarajevo, kebetulan kantor pos terlihat dari terminal bus, tempat saya pertama menginjakkan kaki dikota Sarajevo. Walaupun ada kendala bahasa, prosedur dapat dilalui. Mereka punya modul modul box untuk paket, bisa memilih yang besarnya kira kira sesuai dengan kebutuhan kita. Box yang saya pakai tidak terlalu besar, tapi muat barang2 saya sebanyak 7 kg an. Isinya adalah oleh oleh seperti T Shirt,  pernak pernik dan cinderamata yang akan dibawa pulang ketanah air.

Untuk mengurangi beban perjalanan, saya kirimkan dulu sebagian barang barang ke alamat teman yang tinggal di Amsterdam, karena nantinya saya akan kembali ke tanah air dari Amsterdam. Sayangnya sovenir berupa magnet tidak boleh dimasukkan, takut ditolak ketika di scan, ya sudah ikuti saja peraturannya. Sambil berdoa semoga paketnya sampai dengan selamat di Amsterdam. Sarajevo ..agak agak sedikit meragukan, tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Mereka menjanjikan paket akan tiba sekitar 2 minggu, pada kenyataannya 5 hari kemudian teman saya mengabarkan bahwa paket sudah tiba dengan selamat. Puji Tuhan….

Begitulah  kartupos dan kantorpos yang sekarang juga saya nikmati .

Gagalnya sebuah perjalanan

Kata siapa kalau perjalanan yang sudah direncanakan matang harus selalu lancar sukses mencapai target. Setidaknya tercatat ada 2 perjalanan saya yang -gagal total berantakan bikin jengkel tingkat dewa- bahkan sampai harus reschedule , tiket hangus dan mesti beli ulang.

COLOSSUS-OF-RHODES

Pertama : Gagal mengunjungi Rhodes di Cyclades Yunani, gara gara salah tafsir tanggal. Ini terjadi waktu saya keliling pulau2 di Yunani, sudah direncanakan sedemikian rupa supaya efektif tidak buang waktu, cari tiket ferry yang paling murah dengan konsekwensi jadwal yang cuma sehari sekali berangkatnya, malahan hari-hari tertentu saja. Tidak disemua pulau saya menginap, hanya di 2-3 pulau asik , beberapa pulau lainnya saya kunjungi tanpa menginap. Di Mykonos, Crete dan Santorini saya menginap 1-2 malam, pulau Naxos dan Rhodes cuma mampir karena ga mau rugi lantaran belum pernah kesitu.

Jalur kapal, boat, ferry ada banyak macam, company nya juga beda beda, termasuk  variasi harganya tergantung  cepat atau lambat (tapi tidak ada yang murah untuk kantong saya), dengan susah payah saya bisa mendapatkan tiket tiket yang sesuai dengan keinginan . Cari yang pas juga sulitnya minta ampun, hampir semua websitenya tidak menggunakan bahasa Inggris,  huruf alpha omega semua !! Ngerti yang ini, lupa yang tadi..cocok sampai jalur situ, tidak ada kapal jalur ke pulau berikut yang saya tuju, ulang lagi dari mula, harus ditukar urutannya. Urutan, harga sudah cocok, eh ..jamnya kurang ideal.

Makan waktu 3 hari sendiri untuk merancang rute, harga dan waktu yang betul betul pas. Rencana sudah mantap, bisa gagal dimananya? Teledor aja karena keasikan main. Kejadiannya begini…saya tiba di Fira tanggal 4 April, begitu sampai di terminal bus yang membawa saya dari pelabuhan, langsung saya menanyakan jadwal bus ke pelabuhan untuk lusa, tgl 6 dimana saya harus berangkat ke pulau Rhodes. Jadwal bus ke pelabuhan ditulis pakai bolpen tertera bus terakhir untuk tanggal 5 April adalah jam 9 malam. Saya tanya jadwal untuk tanggal 6 April mana? Mereka jawab suruh lihat besok…kok aneh, jadwal ditulisnya perhari. Ya sudah, besok saya akan kembali ke terminal untuk lihat jadwal, toh pasti besok saya kesana lagi untuk naik bis ke Oia, kota lain dipulau itu.

Setelah menyimpan koper di hotel, saya jalan jalan di kota Fira sepuas puasnya. Besoknya pagi pagi saya berangkat ke Oia naik bus, tidak lupa di terminal saya menanyakan jadwal bus untuk tanggal 6 April, ternyata keberangkatan bus  yang  paling akhir jam 5 sore. Ya sudah, terpaksa besok saya harus naik taxi ke pelabuhan, masa saya harus menunggu 4-5 jam di pelabuhan sebelum kapal berangkat tengah malam. Jarak kota ke pelabuhan tidak terlalu jauh juga, naik bus cuma 15 menit. Sanggup lah bayar taxi.

Seharian itu saya bersenang senang di Oia desa cantik diatas tebing menghadap laut, dengan rumah bersusun susun serba putih. Puncaknya adalah melihat sunset yang menghadap ke gunung volcano…hari yang sempurna. Besok paginya tgl 6 ketika saya sarapan, ada sms masuk yang beritanya ‘anda sudah bisa web chek-in untuk penerbangan Rhodes-Athena 6 April jam 20.00’….., bingung..lha sekarang masih di Fira. Naaaah..tragedi dimulai. Langsung saya cek tiket boat dan tiket pesawat. Ohalaaaa…ternyata tiket boat saya betul berangkat dari Fira tgl 6 April tapi jam 00.50 dan tiba di Rhodes jam 9.00 pagi. Jadi seharusnya saat itu saya sudah tiba di Rhodes, jadi sebetulnya tadi malam saya tidur di boat, jadi nanti malam saya sudah terbang ke Athena…haiissssh…..hangus deh tiket boat 39 Euro.

Sudah hilang kesalnya, saya harus segera bertindak mau bagaimana..cari tiket pesawat ke Rhodes jamnya sudah mepet, ga mungkin lagi…rela ga rela saya harus beli tiket langsung ke Athena supaya tidak rugi lebih parah. Skip deh Rhodes, padahal saya ingin melihat bekas Colossus, yang sudah runtuh kapan kapan. Mungkin nanti saya harus kesana lagi kalau patung Helios sudah jadi. Lah namanya traveling, kadang ada juga melesetnya. Hangus tiket boat Fira-Rhodes, hangus tiket pesawat Rhodes-Athena, hangus hostel di Rhodes..walaupun saya tidak menginap di Rhodes, tetap saya booking hostel rencananya hanya untuk titip koper selama jalan jalan sekian jam, berhubung pelabuhannya tidak punya penitipan koper. Total kerugian 150Eur…jreeeeng.

Keukenhof

Kedua: Gagal reuni sama temen temen di Keukenhof. Ini konyol gara-gara telat bangun sehingga ketinggalan pesawat ke Amsterdam. Jauh jauh hari sebelum berangkat, saya sudah kontak teman yang di Belanda mau ketemuan ditanggal yang sudah disepakati bersama, di Keukenhof. Saya belum pernah lihat tulip disana, dan pas lagi musimnya…jadi cita cita bisa foto2an ditaman tulip. Sebetulnya cuma dengan 2 orang teman yang sudah tinggal puluhan tahun disana, satu teman SD dan satu lagi teman kuliah. Malahan kita sudah masing2 beli tiket masuk ke Keukenhof, supaya tidak pake antri.

Mereka akan berangkat dari kediamannya masing masing, saya berangkat dari Berlin ke Amsterdam pagi pagi, lalu dari Schiphol naik bus langsung ke Keukenhof, saya sudah beli tiket online yang paketan untuk masuk taman berikut tiket bus nya pp. Dasar sama sekali tidak berjodoh sama tulip, betul betul batal berantakan rencana itu. Di pagi keberangkatan, saya terbangun jam 6, sementara jadwal pesawat take off jam 6.30. Alarm yang saya pasang jam 4 pagi..bablas tidak terdengar. Padahal hari-hari kemarinnya selalu saya terbangun 5-10 menit sebelum alarm bunyi.

Aneh kan??..Malam sebelumnya saya sudah pesan taxi, tapi kenapa pintu saya tidak digedor ya? Kalau tidak salah kamar hotelnya tanpa telepon, ya maklum hotel paling murah yang saya pilih. Ketika saya tanyakan ke receptionist, mereka bilang tadi ada taxi orderan datang jam 5, tapi pergi lagi …mereka tidak tahu siapa yang memesan. Yah nasib..walaupun sadar saat itu sudah tidak akan terkejar, tetap saya kabur ke airport yang jaraknya cuma 5 menit naik taxi .

Sambil menunggu order taxi ulang,  5 menit saya gunakan untuk dandan kilat, juga tak lupa berdoa semoga pesawatnya delay. Doa saya tidak berkenan..pas tiba di airport, pesawatnya sudah babayyyy… Urusan tiket hangus tidak begitu saya pikirkan, pasti akan ada jalan keluar berhubung sudah sering juga ketinggalan pesawat. Yang saya pikirkan adalah 2 teman lain yang sudah sepakat bakal ketemu bareng…kecewanya pol.

Ketika akhirnya saya telfon salah satu teman untuk mengabarkan saya ketinggalan pesawat, dia sudah siap2 berangkat ke Keukenhof, bahkan  sudah menyiapkan bekal sandwich untuk sarapan saya…duh terharu. Saya sudah ingin beli tiket flight berikutnya, tapi penerbangannya cuma ada sehari sekali. Tiket ke kota lain yang dekat2 Amsterdam juga tidak ada. Teman saya usul agar segera naik kereta. Wah..engga deh..kemarinnya saya ke kota naik kereta, pas jalurnya ada yang ditutup, sehingga harus stop di stasiun anu, turun lalu disuruh sambung dengan bus nomer segini sampai setasiun berikutnya untuk bisa naik kereta lanjutan.

Busnya gratis, tapi jalan dari setasiun ke bus stopnya memotong taman yang luas dengan jalanan setapak dari kerikil. Tobat kalau harus nyeret koper diatas kerikil segitu jauh…bisa bisa rodanya tamat sebelum jalan kerikilnya selesai. Akhirnya saya balik check-in ke hotel yang sama setelah membeli tiket  penerbangan di jam yang sama untuk besoknya,  lalu besok sorenya saya sudah harus terbang ke Indonesia. Ini lebih besar lagi ruginya..dobel tiket pesawat, hilang bookingan hotel semalam di Amsterdam, bayar semalam lagi hotel di Berlin, hilang tiket Keukenhof, batal ketemu teman lama. Jengkel..jelas. Kapok? Engga juga tuh..itulah bagian dari suka duka perjalanan..halaaaah.

Booking akomodasi online dengan segambreng kejutan.

Booking akomodasi online dapat harga murah? Harus siap terima banyak kejutan . Gambaran yang diberikan pihak penyedia akomodasi di website adalah kelebihannya bahkan kadang dilebih lebihkan, sedangkan kekurangannya cenderung disembunyikan. Contoh kelebihan : lokasi bagus ditengah kota atau di tepi jalan, dekat dengan tourist attraction , dekat halte bus atau station metro. Nah kalau di lokasi bagus biasanya lahan mahal, tidak jarang akomodasi murah letaknya ada di lantai 3 bahkan lantai 4.   Hal seperti ini yang kadang tidak disebutkan. Naik tangga 4 lantai sambil membawa ransel atau duffel, sengsara yaaa… Bahkan tidak jarang tangga menuju ke lantai hostel tersebut spooky…..Kalau  letaknya  ada di dalam old city atau old quarter bangunannya pasti tua, jarang yang pakai lift. Bahkan untuk mencapai penginapan harus siap jalan kaki sambil geret2 koper di jalanan dalam kota, yang bebas kendaran. Nah untuk mengakali hal hal seperti ini biasanya saya menuliskan di kolom message bahwa saya minta kamar di lantai dasar, dan selalu ampuh untuk minta kompensasi minimal dibantu membawa duffel  sampai ke lantai 4 .

20150419_193020

‘Hanya’ melewati 4 bordes sampailah di Hotel saya di Stari Grad Dubrovnik, pintunya pas hitungan anak tangga batu ke 53.

Kompensasi lain yang saya dapatkan ketika pihak hostel tidak punya jenis kamar yang saya pesan di lantai dasar atau lt 1, mereka memberikan kamar apa saja yang ada di lantai dasar , biasanya memang lebih bagus dan mahal taripnya. Di kota Kotor, Montenegro saya mendapatkan kamar double bed, 2 kamar mandi , 1 ruang tamu dengan sofa bed merangkap kitchenette ada microwave, water kettle listrik,  kompor dan bak cuci piring. Bisa buat tidur 4 orang..tapi saya pakai sendirian dan bayarnya tetap harga kamar single standard sesuai permintaan, itu enaknya kalau ngetrip diluar peak season.

Kejutan lain adalah ketika saya check in di hotel murah tapi letaknya strategis dijalan raya dikota Thessaloniki, Yunani. Dengan tarip dibawah hotel tanpa bintang, saya ditempatkan di suite room yang luasnya satu lantai full.  Lift nya khusus ke lantai paling atas , sofa ruang tamunya serius full accesories dengan bantal bertumpuk tumpuk lengkap dengan rumbai rumbai dan cangkir tehnya dari perak. Toiletnya luas, bathtubnya pake whirlpool , amenitiesnya juga lengkap termasuk loose powder dan body lotion, handuknya ada 5 ukuran . Tempat tidurnya super besar . Teras balkonnya luas, bisa buat buka 2 meja pingpong tambah 1 meja bilyard. Sayang udara luar tidak memungkinkan saya menikmati teras  yang luas itu dengan nyaman, karena sangat dingin dimalam dan pagi hari. Breakfast lengkap dikirim ke kamar dengan trolley, seperti di film film . Usut punya usut ternyata hotel mewah itu sedang direnovasi, kebetulan saat itu ruang makannya sedang diperbaiki, sehingga breakfast tamu dikirim ke kamar masing masing. Pantesan tarip hotelnya juga super murah.

Kejutannya kadang enak, tapi juga bisa sangat tidak enak.

Study Banding

Dulu dulu tidak pernah terpikir bahwa saya akan kembali mengunjungi satu tempat berkali kali, karena sekali saja sudah menghabiskan banyak biaya. Ternyata setelah sekian tahun berjalan, bisa saja terjadi saya tiba ditempat yang sama, entah karena jalurnya -sekalian lewat- atau -yang murah lewat situ-.

Secara tidak disengaja pula saya menemukan beberapa foto ditempat yang sama, dikesempatan yang berbeda, tahun yang juga beda.

Eur banding3

Di Lion Monument Lucerne, selang 15 tahun singanya masih tetep tidur.

MAPI2

Machu Picchu-Peru, tahun 2006 dan 2011

MAPI3

Di Machu Picchu, ditempat yang sama dan posisi yang sama

Eur banding2

Selang 13 tahun ditempat itu saya berfoto lagi-Innsbruck

Eur banding1

Beda jauh ..13 tahun lebih tua…Salzburg

Sebetulnya ada banyak tempat lagi yang pernah saya kunjungi lebih dari sekali, tapi  tidak ketemu foto yang diambil tepat ditempat yang sama. Biasanya di kota kota transit, seperti LA, San Francisco, Amsterdam, Mexico City.

Potemkin steps – Optical Illusion stairs

Potemkin Steps adalah tangga legendaris dan icon kota Odesa, mewakili pintu masuk utama kearah kota secara formal dari arah laut. Secara topografis Odesa adalah kota pelabuhan tapi letaknya di dataran tinggi sehingga akses ke tepi laut sangat curam. Dari arah pelabuhan akan terlihat patung bronze Duke of Richelieu dipuncak tangga Potemkin, ialah walikota pertama kota Odesa. Nama Potemkin diambil dari nama kapal perang Rusia, yang menjadi terkenal setelah awak kapalnya melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pada jaman revolusi Rusia th 1905.

P1080468

patung Richelieu  dan 2 cucu perempuannya  ^.^

Mengapa tangga ini jadi begitu dibanggakan adalah karena design nya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak melelahkan saat mendaki 200 anak tangga keatas. Setiap 20 anak tangga, terdapat bidang datar sejauh 20 langkah menuju 20 anak tangga berikutnya, demikian berulang 10 kali sampai ke puncak. Hasilnya adalah suatu optical illusion, dimana bila kita berdiri dari atas, yang terlihat hanyalah bidang datar saja, anak tangganya tidak terlihat. Sebaliknya dari arah bawah, yang terlihat hanya anak anak tangga saja, bidang datarnya tidak kelihatan. 8 anak tangga terbawah tertimbun urugan pada waktu proyek perluasan pelabuhan, sehingga sekarang tinggal 192 tanjakan.

Lebar tangga di paling atas 12.5 meter, sedangkan lebar tangga terbawah adalah 21.7 meter, secara logika tangga ini harusnya terlihat seperti trapezium , tapi dari atas terlihat lebar tangga tidak membesar dibagian bawah sana. Sebaliknya bila berdiri dari bawah, tangga terlihat sangat mengecil keatas, berakhir di patung Richelieu, menimbulkan efek megah…..lagi lagi tipuan optik.

Disamping Potemkin Steps terdapat funicular, kereta shuttle dari atas kebawah, bisa digunakan gratis untuk yang tidak mau pakai tangga.

Pengalaman turun kelihatannya dekat, yang terlihat hanya 10 lapis karena tidak terlihat anak tangganya, tapi kok tidak habis habis , sedangkan waktu naik sepertinya sangat terjal karena yang terlihat 192 anak tangga semua, sama juga rasanya tidak sampai sampai , tapi tidak melelahkan karena ada 20 langkah jalan rata sebelum naik lagi. Seluruh tangga ini terbuat dari granit rose grey, tapi entah kenapa bagian datarnya malah dilapis aspal.

P1080460

Diatas adalah foto bonus, didaerah dekat Potemkin steps. Dari jauh terlihat seperti tampak bangunan asli, setelah dekat ternyata itu hanya layar penutup proyek entah renovasi atau bangunan baru…ketipu lagi.

Nonton Troubadour di Ukraine

Opera Theater Sephia

Saya begitu menikmati liburan di Odesa , mungkin mood suasana dan udaranya cocok untuk dinikmati ala turis  bermantel bulu. Kota yang tidak terlalu ramai,  lingkungan yang bersih,  nuansa kota dengan bangunan2 gaya baroque yang kental menghantar impian jadi bangsawan yang hidup era tahun dua puluhan.

Cuaca waktu itu awal musim gugur, udara dingin dan banyak turun hujan gerimis, tapi melihat aktifitas penduduk lokal yang seolah tetap bersemangat tanpa terganggu hujan, sayapun jadi terbawa irama tersebut.

Bayangkan, melancong gaya backpacking, tapi menginap di apartemen keren karena memang di Ukraine umum seperti itu. Murah dan asik … ada pantry berperabotan lengkap, tapi berhubung saya tidak senang masak, pantry cuma dipakai buat bikin sarapan dan kopi…bisa mandi berendam berjam jam ( biasanya saya pelanggan hostel , jangankan bathtub..kadang kadang malah kamar mandinya sharing sama penghuni lain).

Kali ini saya entah bagaimana bisa terdorong ingin nonton Opera di Odesa. Ingin tahu bagaimana pengalaman nonton opera yang sebenarnya, yang selama ini hanya melihatnya di film film. Dalam bayangan saya nonton Opera itu barang mahal. Kemarin ini harga  tiket balkon USD 30,  terjangkaulah untuk tambah pengetahuan dan pengalaman nonton Opera. Tiket saya beli siangnya untuk pertunjukan malam, dan waktu itu saya ikut ikutan karena banyak orang yang antri di loket penjualannya.  Saya sempat bertanya, apakah harus pakai pakaian formal karena saya tidak bawa dress, celana panjang semuanya jeans hanya beda beda warna. Kemudian madam penjual tiket bilang boleh, asal tidak pakai celana pendek. Ga mungkin juga sih malam malam keliaran pakai celana pendek, siang saja saya kedinginan.  Jadi sore sore saya balik ke apartemen, mandi dandan sepantasnya, jangan sampai nonton opera saltum malah nanti jadi tontonan. Begitulah saya berangkat ke gedung opera theatre lebih awal, jalan kaki santai santai saja karena jaraknya dekat dari apartemen. Benar saja, didepan pintu masuk  theater mobil mobil bagus bergantian menurunkan penumpangnya dengan coat keren keren.  Lalu saya ikut saja masuk kedalam lobby. Bentuk lobbynya seperti lorong lebar melengkung ada jurusan kanan dan kiri sama persis.  Saya lihat  orang orang menuju counter dan antri dengan rapih mungkin menukarkan tiket atau beli apa, ternyata madam madam antri titip coat… saya sendiri yang berjaket, mau nitip rasanya saya masih perlu kehangatan jaket, lorong itu hampir sama dinginnya dengan diluar. Saya pergunakan waktu untuk memotret motret dan menikmati penonton yang modis dan wangi, sementara saya jaketan dan manggul backpack, walaupun isinya sudah saya kosongkan sekempes mungkin. Lorong yang sangat mewah dan megah, lantainya marmer mengilap, berborder inlay motif motif classic, langit2 serba putih dengan hiasan lis warna emas, berpanel dengan cornice bersusun susun, dinding sepanjang lorong full panel berhias lengkung baroque,  dengan wall scone yang berukir cantik di tiap modul panelnya. Setelah puas mengitari lorong kanan kiri, baru saya cari informasi bagaimana menuju tempat duduk  yang tertera di tiket. Diarahkan kelantai 3, lalu kekanan cari pintu nomer 14.

Tangga naik keatas lebih heboh lagi ornament nya. Railingnya dari marmer tebal diukir tembus berdetail halus, post nya juga marmer dengan warna kontras coklat bata, beberapa titik dipercantik dengan tiang keemasan berukir dengan lampu berbentuk kuntum bunga bercabang cabang dipuncaknya. Atrium tangga ini penuh dengan figure cherubim, diatas pintu, di tiang, bahkan diatas railing bertengger cherubim marmer putih , sepertinya puluhan malaikat sedang menyambut pengunjung.

Singkat cerita saya tiba dipintu no 14, dibukakan petugasnya, kemudian saya dipersilakan masuk.  Ya..inilah  balkon tempat duduk saya, ruang kecil bertempat duduk hanya 3, didalamnya sudah ada pasangan yang tiba lebih dahulu dari saya, kelihatannya turis juga, kami cuma bertukar senyum dan sedikit percakapan basa basi, tidak bisa ngobrol bebas karena suasananya hening, semua penonton yang sudah duduk dibalkon masing masing juga diam anggun. Berbisik sedikit rasanya sudah menggema. Disini baru saya mulai menikmati pemandangan yang asli, bukan di film. Curtain beludru  tebal merah maroon tergantung dimana mana, berkerut, drapery, kain bangkunya juga beludru merah. Deretan balkon yang berjajar melingkar berbentuk tapal kuda berpusat di panggung, railingnya berhias ukiran ukiran cantik seperti renda emas. Ada 4 tingkat balkon semuanya. Dilantai paling bawah deretan kursi kursi biasa, itu yang taripnya lebih murah. Panggung didominasi warna merah dengan layar yang masih tertutup, beludru merah dengan sulaman warna emas. Dibawah panggung  terlihat deretan pemain musik yang sedang bersiap siap dengan segala peralatannya. Bebas memotret sebelum acara dimulai, tapi selama pertunjukan dilarang sama sekali. Pertunjukan hari ini adalah penampilan  Odesa State Academical, yang memainkan Opera 4 babak karya G Verdi berjudul Troubadour. Jujur saja saya kurang begitu bisa menikmati Opera model klasik seperti ini, selain secara visual saja. Konon gedung Opera disini adalah yang terbaik di Eropa Timur. Dulu hanya disini yang punya system pendingin udara untuk pertunjukan dimusim panas, caranya memakai ratusan balok es yang ditaruh di basemen gedung, lalu uap es disalurkan dengan pipa pipa besi ke kisi kisi dibawah tempat duduk penonton.