Whirling Dervishes

doc. agatravel

doc. agatravel

Whirling Dervishes adalah bentuk tarian berputar putar yang dilakukan dalam keadaan meditasi. Tarian ini dilakukan oleh para sufi, berjubah putih melebar dibagian bawah dan akan mengembang selingkaran penuh saat penari berputar putar, dan sesungguhnya tarian ini adalah bentuk dzikir . Semua gerakan, arah putaran, formasi dan kostumnya sarat dengan symbol symbol  religi.

Tarian diawali dengan para sufi mengenakan jubah hitam, untuk selanjutnya dilepas sehingga terlihat jubah putih yang menandakan kebenaran (kesucian) sudah terlahir mengalahkan kegelapan. Kemudian mereka membungkuk dengan menyilangkan kedua tangan didada, merupakan ungkapan akan kebesaran Tuhan. Setelah itu penari akan berputar lembut berlawanan dengan arah jarum jam,berporos pada kaki kiri, tangan terentang dengan telapak tangan kanan menghadap kelangit, menandakan kesiapan menerima kebaikan Tuhan, dan tangan kiri mengarah ke bumi. Mereka terus berputar sambil berjalan membentuk lingkaran mengelilingi seorang yang hanya berputar ditempat sebagai pusatnya. Formasi ini terus dipertahankan, menggambarkan tata surya alam dimana penari diluar sebagai planet yang berputar membentuk orbit mengelilingi matahari sebagai pusat. Secara umum gerakan ini diartikan sebagai penanda bahwa Allah mencintai segenap tata surya beserta segala isinya, dengan keyakinan putaran terus menerus yang dilakukan dalam keadaan ‘trance’ itu menebarkan kebaikan Tuhan untuk orang orang disekitarnya termasuk penonton. Ya, penari melakukan itu dengan pikiran terfokus penuh kepada Tuhan dan pada music yang mengiringi. Bahkan mereka mengubur segala emosi dan nafsu kejahatan dihati dengan memakai topi dari bulu onta yang melambangkan batu nisan, sehingga yang tinggal adalah kebersihan hati dan pikiran.  Tarian selalu dilakukan dibawah pengawasan pepimpin/ pemuka agama yang menempati sudut khusus, dimana pada saat penari melewati pemimpin, mereka memberikan salam hormat. Musik pengiringnya hanya ketukan gendang, kicrik kicrik, denting bel dalam ritme monoton, sesekali disisipkan syair yang dilagukan sayup sayup, sehingga menghantar penari ke alam trance secara optimal.

Karena tarian ini (mereka menyebutnya Sema) tergolong upacara keagamaan menurut aliran Mevlevi yang berbasis di Konya (ibukota pada masa kejayaan Kesultanan Anatolia Selcuk), banyak pengikut tetapi banyak juga penentang, bahkan pernah ada suatu periode mereka dilarang melakukan ritual tersebut sehingga mereka harus bersembunyi ke pelosok pelosok dan menyebar untuk dapat meneruskannya.  Pada awalnya tarian ini tercipta kala Jalal ad-Din Muhammad Balkhi-Rumi , seorang Persia penganut Mevlevi, penyair dan filsuf agama pada abad 13, sedang berjalan melewati daerah penempaan emas.  Suara denting logam yang terdengar  itu diyakini membentuk lafal dzikir ‘tiada Tuhan selain Allah’, saat itu sang Rumi tergerak untuk merentangkan kedua tangannya dan berputar putar, diliputi rasa damai dan bahagia.

Saya berkesempatan melihat ritual ini ditempat yang jauh dari keramaian, di Cappadocia Turki, disebuah bangunan tua ditengah dataran luas, dimalam hari dimana didalamnya hanya diterangi obor obor , begitu masuk langsung  terasa suasana hening sacral, untuk berbicarapun rasanya tidak mampu. Penonton ditempatkan di area setengah melingkar, bertingkat tingkat seperti amphitheatre, dengan tempat duduk dari  batu. Ritualnya dilakukan di arena berbentuk bulat dibagian paling bawah, Mengambil foto diperbolehkan, tapi penggunaan blitz dilarang. Foto dan video yang ada disini bukan hasil saya, pinjam sana sini karena pada waktu itu saya hanya sempat membawa pocket kamera, dan rasanya tidak mungkin menghasilkan gambar yang bagus dengan minimnya penerangan juga jarak yang jauh dari obyek.

Ritual memakan waktu satu jam, dan sepanjang itu penari terus berputar pada porosnya sambil melingkari penari pusat, tanpa jeda atau pergantian penari. Tetapi aneh, gerakan yang itu itu saja tidak terasa membosankan, bahkan kami seolah terhipnotis ikut merasakan damai yang ditebarkan bersama putaran putaran tubuh mereka. Suasana hening, syair mengalun sayup, desir putaran jubah seolah dekat ditelinga, sangat memukau.

Disaat lain, saya sempat bertandang ke Museum Mevlana di Konya, dulu adalah pusat pengajaran keagamaan aliran Mevlevi, dan disana juga para Sufi berlatih melakukan ‘sema’ sedari usia dini.

TurkKonyaMelvanaMuseum

Kalau minta tolong orang motret ya begini…menaranya buntung.

Advertisements

14 thoughts on “Whirling Dervishes

      • dari deskripsi nya mbak mirip deh sama yg aku datangi juga 🙂

        aku baru pulang mbak 2 bulan silk route, nyantai dulu di Belgie hehehee Mbak Fe next trip kemana nih? pasti seruuu…

        Like

      • haduh..mba baru agak senggang nih, lagi ngintip2 tiket yang terjangkau….habis ngerawat mama pasca op jantung.. mana proyek lagi jauh di bali..jadi aja kalang kabut berbulan bulan blog digeletakin aja..

        Like

  1. mba fee, saya pernah melihat tarian seperti ini di jakarta dan di sebuah tempat sufi juga di jakarta. pengin melihat tarian ini di negara aslinya.
    mungkin dalam tarian itu mereka merasakan titik spiritualitas tertinggi / trance. jika dibahasakan mereka sedang mabuk cinta pada Tuhan.

    salam kenal Mbak Fe. saya kagum dengan catatannya yang mengalir dan membuka mata.

    Like

    • farchan…wooow hebat udah bikin buku dan masuk tv.. ya betul tarian ini pas Ramadhan yl tampil di beberapa mall di jakarta. mbak ngga pengen lihat yang tampil di mall, karena pasti atmosfernya kurang mendukung makna yang ingin disampaikan, terimakasih sudah mampir baca catatan2 mbak, semoga berguna. salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s