Sejuta bintang


Petualangan saya kali ini membawa kenangan indah tentang tidur dibawah sejuta bintang .
Tempatnya jauh di sebelah selatan Jordan, tepatnya di Wadi Rum kira kira 300 km dari Petra.
Saya menemukan tempat ini dari website, dan rasa ingin tahu saya akhirnya terjawab setelah tiba disana.
Wadi Rum adalah sebuah gurun yang indah , diperkaya dengan formasi batu batu cadas merah yang tersebar ditengah dataran gurun pasir. Saya tiba ditempat ini sekitar pukul 4 sore, udara masih agak hangat. Jalan menuju ke camp site terbuat dari aspal dengan pemandangan kanan dan kiri jalan adalah gurun pasir . Sesekali terlihat bukit batu dengan berbagai bentuk yang aneh aneh. Kadang seperti bersisik, ada yang seperti dipahat menyerupai candi dan berwarna coklat kemerah merahan ditimpa sinar matahari sore. Di sekitar Wadi Rum ini tercatat banyak sekali Camp site yang sengaja dibuat sebagai atraksi turis, dengan inspirasi kehidupan suku Bedouin yang masih ada di negara negara Arab.
Masyarakat Bedouin ini adalah mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Mereka berkelompok dan berpindah pindah tempat dari satu gurun ke gurun yang lain. Dimana mereka menemukan lahan yang memungkinkan ternak mendapat makan, disitu mereka berdiam untuk waktu yang tidak tertentu. Mereka bukanlah kaum yang tidak memiliki harta, mereka mempunyai domba, bahkan onta yang merupakan simbol kebanggaan bagi masyarakat Arab pada umumnya untuk mengukur seberapa kaya seseorang melalui jumlah onta yang dimiliki, juga bersosialisasi dengan penduduk setempat. Setiap kelompok bahkan memiliki truk untuk mengangkut keperluan hidup mereka sehari hari seperti sayuran dan terutama air, dari desa terdekat. Anak anak juga mendapatkan pendidikan melalui sekolah sekolah terdekat dengan tempat mereka berdiam.
Mereka tidak membangun rumah, tetapi mendirikan tenda tenda menurut keperluan kelompoknya. Tenda tenda Bedouin ini banyak terlihat di sepanjang perjalanan di sekitar Jordan.

Jalan beraspal hanya sampai ke mulut gurun, dan untuk mencapai camp sites yang tersebar digurun harus melalui gurun tanpa tanda apa apa. Bisa dengan kendaraan,naik onta atau jalan kaki. Patokannya berdasarkan bukit bukit batu disana.
Setiap camp site yang ada disana pasti berlindung dibalik bukit batu,mungkin supaya tidak terbawa angin.
Waktu itu saya tinggal di Al Nakheel Camp. Host nya masih muda muda, ada yang asli Bedouin, cooknya dari Egypt, mereka semua ramah sekali membuat saya betah disana. Karena nama saya sulit diingat oleh orang sana, maka saya diberi nama Amar yang artinya bulan..wah… dan sejak itu mereka selalu ingat.


Sore yang sejuk, tenang dan indah, saya pergunakan untuk jalan2 disekitar campsite. Didalam campsite itu ada macam2 tenda yang bisa kita sewa, ada yang untuk 2 orang, ada yang seperti tenda peleton untuk rombongan, ada juga berbentuk gubug kerucut beratap rumbia. Bahkan ada suite room.. pakai tempat tidur dan ada TV tapi tetap atapnya ya terpal. Disamping itu ada juga tenda besar dining room yang hanya biasa dipakai untuk musim dingin. Ada gubug mini bar,ada gubug BBQ. Ada tenda lounge–dengan tempat duduk memanjang dari ujung ke ujung ditutup dengan tenun motif khas Bedouin warna merah menyala dengan garis dekoratif berwarna hitam. Tenda ini hanya beratap dan bertutup terpal sepanjang bagian belakang tempat duduk tadi. selebihnya terbuka . Pada akhirnya saya tertidur di bangku itu, dan banyak juga yang tertidur disana. Bagian yang berdinding bata hanya bangunan toilet. Lengkap dengan shower air panas / dingin dan closet modern. Dibelakangnya adalah bangunan dapur,dan ruang generator. Air untuk keperluan camp harus didatangkan tiap hari menggunakan mobil2 tangki,dan mereka simpan di reservoir diatap bangunan toilet. Tidak perlu hot water karena airnya sudah hangat terjemur panas matahari seharian. Ada genset untuk listrik penerangan disana.


Sunset menjadi saat yang indah sekali..dimana dataran yang tidak berbatas itu berwarna merah menyala sesaat matahari menghilang di horizon. Saya kembali ke campsite setelah hari mulai gelap,sesekali masih terlihat rombongan yang melintas dengan onta.
Sesampainya saya di campsite, lampu2 sudah dinyalakan, dan BBQ mulai dipersiapkan. Menunya ada daging,ayam yang dibakar, dan tidak ketinggalan hidangan wajib: homos dan pita bread . Homos ini selalu ada dalam setiap menu baik breakfast,lunch maupun dinner. terbuat dari jenis kacang2an yang digiling halus, lalu dibuat seperti bubur bayi ,diberi lemon dan olive oil diatasnya. Nasi juga ada, tapi selalu berbumbu , tidak ada nasi putih. Bumbu nasinya juga bermacam macam, ada yang hanya polos gurih seperti nasi uduk, ada juga dengan rempah2 dan dicampur kacang polong, kacang panjang dan macam2 daun2an.Kebetulan saat itu bukan musim liburan, jadi tamu yang datang tidak banyak. Tetapi justru saya bisa bisa makan santai dan ngobrol dengan host campsite sepuasnya. Ada tamu dari Perancis yang juga bergabung ngobrol. Setelah selesai acara makan malam disajikan turkish cofee. Bubuk kopi bukan diseduh seperti biasanya kebiasaan di Indo, tapi direbus dalam wadah kecil sebesar cangkir dan bergagang panjang . Lalu dituang ke gelas kecil. Rasanya pahit dan jauh lebih enak dan harum kopi tubruk bawaan sendiri. Saya selalu membawa kopi bubuk dan gula pasir termasuk spiral pemanas air dari Indo kemanapun pergi.

Jam 10 malam genset dimatikan, lalu berganti dengan obor obor kecil untuk penerangan. Wah….luar biasa romantisnya. Kemudian api unggun dipelataran tengah dinyalakan, sementara itu udara menjadi semakin dingin. Lalu kami duduk disekeliling unggun, dan host memainkan tabla yaitu alat musik seperti gendang kecil sambil menyanyikan lagu2 berbahasa arab dengan african beat..seru. Tabla ini dipangku dan dipukul pukul dengan irama cepat..lalu berhenti berganti ganti, saat pukulan berhenti,yang terdengar adalah echo pukulan yang terpantul pada bukit batu dibelakang camp site… unik sekali. Malam semakin larut dan api mulai mengecil, beberapa orang mulai masuk ke tenda untuk istirahat, dan tabla sudah berhenti. Saat mulai sepi saya masih duduk di tepi unggun,dan menengadah menatap langit yang cerah tak berawan. Disaat itu saya terpukau luar biasa… berjuta juta bintang diatas sana, bertaburan dengan jarak yang sangat rapat, dan tidak pernah saya saksikan dimanapun. Bahkan ketika api unggun padam, jumlah obor mulai dikurangi, sekeliling saya masih terang benderang oleh cahaya bintang2 itu. Persis seperti pemandangan luar angkasa di film2.
Segera saya ke tenda lounge dan mengambil bantal2 sofa dan selimut yang ada disana, saya gelar di tepi unggun dan merebahkan diri disitu. Sambil terlentang saya menikmati indahnya taburan bintang dilangit. Saya menikmati pemandangan ini berjam jam lamanya, sambil mensyukuri kebesaran Tuhan. Suasana hening sekali, tidak ada desiran angin, tidak ada suara2 serangga maupun binatang2 lain. Sesekali terdengar sayup sayup tabuhan tabla dari campsite lain, lalu hening kembali. Sayang rasanya kalau keindahan itu saya sia siakan. Lalu saya pindah ke bangku panjang di tenda lounge karena takut masuk angin,tetapi masih bisa melihat langit dan bintang2 . Rupa rupanya bukan saya sendiri yang akhirnya tertidur di bangku lounge itu..nyaman, hangat dan tidak ada nyamuk..

Begitu pula waktu terbangun saat matahari mulai terbit, remang2 kemudian perlahan2 menjadi terang..saya nikmati sambil berbaring di bangku ooo..luar biasa indah. Kemudian tak sabar saya mendaki bukit dibelakang campsite untuk mendapatkan pemandangan yang lebih lepas kearah gurun pasir…. Wadi Rum, saya ingin kembali kesana…

Advertisements

2 thoughts on “Sejuta bintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s